Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

TOBAT DAN RAJA’

tobat.jpgTahukah kamu bahwa manusia menjalani beberapa proses perjalanan kehidupan. Perjalanan pertamanya adalah kelahiran, kedua adalah kematian, berikutnya dibangkitkan untuk hidup kembali, dan kemudian sesudahnya adalah perhitungan amal (hisab). Kelak ada manusia yang beruntung dan tempat kembalinya adalah syurga, tetapi ada pula manusai yang merugi sehingga tempatnya adalah neraka. Mereka yang beriman dan beramal shalehlah yang mendapatkan jaminan kebahagiaan kehidupan diakhirat kelak.
Dalam menjalani kehidupan, seseorang tentu harus mempersiapkanbekal untuk hari kemudian. Bekalnya adalah iman, ilmu dan amal shaleh. Keimanan yang disertai amal shaleh akan membawa keselamatan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun diakhirat. Apalagi jika ditambah dengan perilaku terpuji seperti berotbat, raja’ (menunjukkan sikap menghara keridhaan Allah), optimis, dinamis, mampu berfikir kritis, dan mampu mengendalikan diri. Bab ini secara khusus akan membahas sifat-sifat terpuji tersebut.

A. Bertobat lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang tobat kepada-Nya dan dia menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS Al Baqarah : 222)

Tobat adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali atau permohonan ampun kepada Allah SWT atas kesalahan (kekhilafan) dan atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya (keterangan selanjutnya lihat QS An Nur ; 31, Ali Imran : 90, An Nisa : 110, Al Maidah : 34 dan At Tahrim : 8)

Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : “Sesungguhnya Allah menerimatobat hambanya selagi ia belum tercungak-cungak hendak mati (nyawanya berbalik-balik dikerongkongan).” (HR Ahmad)

1. Kesalahan atau kekhilafan yang dilakukan terhadap orang lain, diantaranya seperti hal-hal berikut.

1. Tidak memuliakan anak yatim piatu, tidak menganjurkan dan memberi makan orang miskin, memakan harta dengan mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil dan mencintai harta yang berlebihan (lihat QS Al Fajr: 15-20)
2. Bakhil, merasa tidak cukup dan mendustakan pahala yang baik (lihat QS Al Lail : 1-13)
3. Mengumpat, mencela, prasangka dan olok-olok (lihat QS Al humazah : 1, dan Al Hujurat : 11-13)
4. Tidak melaksanakan rukun Islam, terutama mendirikan salat

2. Ada beberapa kriteria orang yang bertaubat.

1. Orang yang bertaubat sesudah melakukan kesalahan. Orang ini diampuni dosanya. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya :“Selain orang-orang yang tobat sesudah berbuat kesalahan dan mengadakan perbaikan, sesungguhnya Allah maha pengampun dan maha penyayang.” (QS Ali Imran : 89)

1. Tobat seseorang ketika hampir mati atau sekarat. Tobat semacam ini sudah tidak dapat diterima lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal dan setelah kepada seorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan : Sesungguhnya saya bertobat sekarang. Dan tidak pula (diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksaan yang pedih.” (QS An Nisa : 18

1. Tobat nasuha atau tobat yang sebenar-benarnya. Tobat nasuha adalah tobat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh atau semurni-murninya. Tobat semacam inilah yang dinilai paling tinggi (lihat Al Qur’an aurah At Tahrim : 8)

Tobat nasuha dapat dilakukan degan prose sebagai berikut.

1) Segera mohon ampun dan meminta tolong hanya kepada Allah (QS An Nahl : 53)

2) Meminta perlindungan dari perbuatan setan atau iblisdan ari kejahatan makhluk lainnya. (QS An Nas : 1-6, Al Falaq : 1-5, dan An Nahl : 98)

3) Bersegera berbuat baik atau mengadakan perbaikan, dengan sungguh-sungguh, sesuai keadaan, tidak melampaui batas, dan hasilnya tidak boleh diminta segera (QS Al A’raf : 35, Hud : 112, Al Isra’ : 17-19, Al Anbiya : 90&37, Az Zumar : 39) serta sadar karena tidak semua keinginan dapat dicapai. (QS An Najm : 24-25)

4) Menggunakan akal dengan sebaik-baiknya agar tak dimurkai Allah (QS Yunus : 100) dan menggunakan pengetahuan tanpa mengikuti nafsu yang buruk (QS Hud : 46 dan Ar Rum : 29) serta selalu membaca ayat-ayat alam semesta Al Qur’an (QS Ali Imran : 190-191), mendengarkan perkataan lalu memilih yang terbaik (QS Az Zumar : 18), dan bertanya kepada yang berpengetahuan jika tidak tahu (QS An Nahl : 43)

5) Bersabar (QS Al Baqarah : 155-157) karena kalau tidak sabar orang beriman dan bertakwa tidak akan mendapat pahala (QS Al Qasas : 30)

6) Melakukan salat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (QS Al Ankabut : 45) dan bertebaran di muka bumi setelah selesai salat untuk mencari karunia Allah dengan selalu mengingatnya agar beruntung (QS Al Jumuah : 9-10)

7) Terus menerus berbuat baik agar terus menerus diberi hikmah (QS Yusuf : 22, Al Qasas : 4, Al Furqan : 69-71, At Taubah : 11 dan Al mukmin : 7)

Untuk bisa dinyatakan sebagai tobat nasuha, seseorang harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut.

1) Harus menghentikan perbuatan dosanya

2) Harus menyesalai perbuatannya

3) Niat bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Dan mengganti dengan perbuatan yang baik, dan apabila ada hubungan dengan hak-hak orang lain, maka ia harus meminta maaf dan mengembalikan hak pada orang tersebut

B. Mengharap Keridhaan Allah

Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah melalui orang tua adalah birul walidain. Birul walidain atau berbakti kepada kedua orang tuamerupakan salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al Qur’an, setelah memerintahklan manusia untuk bertauhid kepadanya Allah SWT memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Dalam surah Al Isra : 23-24 Allah berfirman lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : (23) Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam peliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia. (24) Dan hendaklah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagai mana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS Al Isra : 23-24)

Keutamaan berbakti kepada orang tua dan pahalanya apabila kita melaksanakannya.

1. Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Hadis nabi Muhammad SAW dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Nabi SAW tenatang amal yang paling utama dan dicintai Allah. Nabi SAW menjawab, pertama salat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan salat diawal waktunya), kedua berbakti kepada orang tua, dan ketiga jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama diantaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua)

2. Rida Allah tergantung keridhaan orang tua. Ini tertuang dalam hadis yang diriwayatkan oleh bukhari dari Abadul Mufrad, Ibnu hibban, Ahkim dan At Tarmidzi

3. Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu melalui cara beramal saleh. Ini menunjukkan bahwa melalui berbakti kepada orang tua yang pernah kita lakukan, dapat menghilangkan kesulitan. Banyak sekali kesulitan yang dialami seseorang karena berbuat durhakakepada kedua orang tua. Bagaimana beratnya orang tua kita yang telah bersusah payah megurus anak-anaknya. Walaupun si anak sudah bekerja sehari semalam atau hendak membalas dengan perbuatan apapun tidak akan pernah terbayar dengan jasa orang tua kita mengurs kita sewaktu kecil.

4. Dengan bersilaturahmi kepada orang tua, seseorang akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur sebagaimana dalam hadis dinyatakan.

Artinya : “Barang siapa yang suka diluaskan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

Ketika bersilaturahmi, kita harus mendahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara kita yang sering bersilaturahmi kepada teman-temannya, tapi jarang atau bahkan tidak pernah bersilaturahmi kepada orang tuanya sendiri. Sesulit apapun keadaannya, kita harus tetap berusaha untuk bersilaturahmi kepada orang tua

5. Balasan berbakti kepada orang tua yaitu akan dimasukkan ke surga oleh Allah SWT. Selain itu, jika seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka. Sebaliknya, dosa-dosa yang Allah segerakan azabnya didunia diantaranya adalah akibat berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua. (lihat QS Al Ankabut : 8, Maryam :12-15&30-34, Ibrahim : 40-41, Asy Syuara ; 87-88, dan An Nahl : 19)

Bentuk bentuk berbakti kepada orang tua, antara lain dapat dilakukan melalui cara berikut ini

1. Berakhlak baik kepada keduanya. Di dalam hadis nabi SAW disebutkan bahwa memberi kebahagiaan kepada seorang mukmintermasuk sedekah, lebih utama lagi jka kegembiraan tersebut diberikan kepada kedua orang tua kita
2. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut atau berbicara dengan perkataan yang mulia kepada orang tua
3. Tawaduk (rendah hati) atau tidak boleh bersikap sombong karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan orang tua kita
4. Memberi infak atau sedekah kepada kedua orang tua
5. mendoakan kedua orang tua sebagaimana ayat “rabbirhamhuma kama rabbayani shagira.” (Wahai Rabb-ku, kasihilah kedua orang tuaku, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti ajaran Islam dengan benar atau berbuat syirik atau bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada mereka, meskipun dengan tidak mengikuti jalan mereka.

Apabila kedua orang tua telah meninggal, yang harus kita lakukan adalah memohon ampun untuk mereka kepada Allah SWT dan minta ampun dengan taubat nasuha bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya diwaktu mereka masih hidup, kemudian membayar hutang-hutangnya, selanjutnya melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syariat dan menyambung silaturahmi kepada teman atau kerabat mereka.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua yang berusia lanjut adlah kesempatan yang paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, mempermudah rezeki dan menjadi jembatan menuju surga. Oleh karena itu, sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan orang tuanya sehingga menyebabkan dia tidak masuk surga.

C. Perilaku Optimis

Setiap manusai akan selalu diuji keimana dan kepribadiannya. Dengan segal keurangan dan kelebihan dirinya, manusia senantias menghadapi peluang dan tantangan. Tidak jarang kegagalan dijumpai dalam usaha keras yang telah dilakukan sepanjang hidupnya. Bila peluang dan kesempatan telah tersedia, kemudian ditambah dengan modal, potensi, kekuatan atau kelebihan dirinya, seringkali menimbulkan rasa optimis. Sebaliknya, apabila kemampuan yang dimiliki kurang memadai, biasanya seorang mudah merasa pesimis.

Optimis merupakan keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di duni maupun dalam menghadapi kehidupan akhirat kelak. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat: lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Janganlah kamu bersifat lemah, dan janganlah pula kamu bersedi hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran : 139)

Sikap optimis merupakan sikap yang harus dimiliki oleh stiap manusia, khusunya seorang muslim. Karena dengan optimis, seorang muslim akan selalu berusah semaksimal mungkin mencapai cita-citanya dengan penuh keikhlasan karena Allah tanpa sedikitpun rasa takut dan khawatir akan mengalami kegagalan.

Hadis nabi Muhammad menyatakan.yang artinya : “Dari abu hurairah ia berkata, telah bersabda rasulullah SAW, mukmin yang kuat akan lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang mukmin) itu ada kebaikan, beringinlah (optimis) kepada apa-apa yang memberi manfaat.” (HR Bukhari)

Dari ayat dan hadis tersebut diatas, kita harus yakin, mantap dan tidak ragu-ragu atau bimbang jika mempunyai keinginan kuat untuk melaksanakan segala cita-cita yang sesuai dengan jalan-Nya. Allah tidak menyukaiorang-orang yang berputus asa atau lemah karena sikap demikian membuka pintu bujuk rayu setan. Akan tetapi, optimis tanpa perhitungan dan pertimbangan yang tepat juga merupakan sesuatu kekonyolan (tidak dibenarkan) yang dapat dibenci Allah. Sikap pesimis merupakan halangan utama bagi seseorang untuk menerima tantangan. Orang yang pesimis pasti akan merasa hidupnya selalu penuh dengan kesulitan. Ia selalu merasa dalam ketidakberdayaan mengahadapi masa depan. Sikap seperti ini sangat dibenci oleh Islam. Islam sangat mendorong sikap optimis dan mengcam sikap pesimis.

Ada 6 hal yang dapat membangkitkan sikap optimis dalam kehidupan kita yakni sebagai berikut.

1. Temukan hal-hal positif dari pengalaman masa lalu

2. Tata kembali target yang ingin kita capai

3. Pecah target yang besar menjadi target-target kecil yang dapat segera dilihat keberhasilannya.

4. Bertawakal kepada Allah SWT setelah melakukan ihtiyar

5. Langkah terakhir, kita perlu mengubah pandangan kita terhadap diri dan kegagalan

6. Yakinkan bahwa Allah SWT akan menolong dan memberi jalan keluar

Optimisme sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari guna mencapai sebuah kesuksesan dan keberhasilan dalm hidup di dunia dan akhirat. Dengan adanya sikap optimisme dalam diri setiap muslim, kinerja untuk amal akan meningkat dan persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik. Doa, ihtiyar dan tawakal harus senantiasa mengiringi karena hanya denngan kuasa-Nya apa yang kita inginkan dapat terwujud. Maka, tumbuhkan selalu sikap optimisme dan harapan sebagai energi hidup agar tetap menyala, bersemangat, tidak kenal menyerah dan yang terpenting adalah yakinlah dengan pertolongan Allah SWT. (selanjutnya lihat QS Al Insyirah : 5-6, Al baqarah : 147, Az Zumar : 39 dan At Talaq : 2-3)

D. Perilaku Dinamis

Dinamis dapat diartikan sebagai satu keadaan yang selalu bergerak, tidak pernah diam, tidak statis. Seseornag yang dinamis adalah seseorang yang tidak kenal putus asa dalam mencapaui tujuannya. Sikap dinamis ini memacu manusia pada kemajuan dan perkembangan. Allah SWT berfirman. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Dan (Dia telah menetapkan) kuda, bagal dan keledai agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS An Nahl : 8)

Melalui ayat tersebut, Allah telah mengisyaratkan kepada manusai untuk berfikir, merenung dan menghasilkan inovasi-inovasi seperti menciptakan tekhnologi mutakhir dan menjadikan tekhnologi itu sebagai perhiaan, kebanggaan dan kemudahan bagi manusia. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “(1)Demi masa. (2)Sesungguhnya manusia dalam kerugian. (3)Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling berwasiat dengan kebenaran, dan berwasiat dengan kesabaran.” (QS Al Asr : 1-3)

Di dalam ayat tersebut, Allah menyarankan kepada manusia untuk mempergunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Meskipun waktu itu sangat sempit, apabila dipergunakan dengan baik niscaya waktu yang sempit itu akan menjadi waktu yang sangat berharga. Salah satu memanfaatkan waktu adalah dengan terus berusaha atau berkarya untuk mencapai tujuan, tak pernah putus asa dan selalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki. Manusia dinamis selalu berkarya tanpa mengenal lelah dan tidak berputus asa dan selalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki. Manusia dinamis terus berkarya tanpa mengenal lelah dan tidak berputus asa. Firman Allah SWT. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “(Sesungguhya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. )Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu. “ (QS Al Maarij :19-24)

Kesulitan yang dihadapi, bukan untuk ditakuti atau dihindari. Akan tetapi, kita harus berusaha agar kesulitan itu menjadi sebuah tantangan dan peluang. Kita harus terus bergerak dan berusaha untuk kreatif dan inovatif. Allah SWT menyatakan lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “…Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh kerjaan yang lain.” (QS Al Insyirah : 5-7)

Dalam firman Allah SWT yang lain dinyatakan. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Kebenaran itu adalah dari tuhanmu. Karena itu jangan sekali-kali engkau tergolong orang yang ragu-ragu.” (QS Al Baqarah : 147)

Manusia yang baik adalah manusia yang berprestasi lebih baik dari hair kemarin. Dan manusai yang buruk adalah manusia yang sama, bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Maka berusahalah untuk menjadi manusai yang senantiasa berusaha ke arah kebaikan.

E. Berpikir Kritis

Allah SWT menciptakan manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusai memiliki akal (rasio) dan rasa sehingga dengan akal itu manusai mampu berfikir dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Orang yang tidak mau mempergunakan akalnya adalah orang yang di murkai oleh Allah. Allah SWT memerintahkan agar setiap muslim senantiasa hati-hati, teliti dan kritis terlebih dahulu sebelum mengambil suatu tindakan. Allah SWT senantias mengetahui apa yang tersimpan di dalam pikiran dan perbuatan hambanya, dan dia akan memberi balasan yang setimpaldengan hal tersebut, baik ataupun buruk

Proses berfikir dan semangat untuk terus mencari solusi atas suatu permasalahan merupakan sesuatu yang harus selalu dipelihara. Semua masalah yang timbul dari dalam dan dari luar merupakan pemicu seseorang agar senantiasa berfikir untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut. Berpikir kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang atau akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapoat memecahkan masalah tersebut

Setiap orang mempunyai pola pikir berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secra kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir bagaimana menjadikan hidupnya lebih baik, tentram dan mampu menjalani semua masalah sepelik apapunyang diberikan kepadanya.

Banyak orang yang cenderung malas untuk memikirkan penyelesaian masalah yang sedang mereka hadapi atau menghindar dari persoalan tersebut. Mereka menganggap hal itu adalah cara yang paling efektif untuk membuat mereka tenang. Akan tetapi, mereka sebenarnya merasa resah karena solusi dari masalah tersebut belum mereka dapatkan.

Seseorang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya sesuai dengan tuntunan Allah diantaranya menunjukkan sikap sebagai berikut.

1. Mengingat Allah setiap saat.

2. berpikir positif dan menyadari bahwa dibalik semua kejadian pasti memiliki hikmah sehingga tidak ada yang sia-sia

3. Meyakini bahwa Allah telah mengatur segala ciptaanya demi kesejahteraan manusia

4. Memilih yang terbaik berdasarkan hasil musyawarah

5. Selalu mengambil hikmah dan pelajaran dalam setiap kejadian yang dialami

6. Senang berbuat baik untuk sesama manusia

7. Rajin melaksanakan salat

8. meyakini akan adanya kehidupan akhirat

Beberpa ciri orang yang memiliki perilaku suka berpikir kritis antara lain sebagai berikut.

1. Menanggapi atau memberikan komentar terhadap sesuatu dengan penuh pertimbangan lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujarat : 6)

1. Bersedia memperbaiki kesalahan atau kekeliruan
2. Dapat menelaah atau menganalisa sesuatu yang datang kepadanya secara sistematis
3. Berani menyampaiakn kebenaran meskipun berat dirasakan. Al Qur’an menyatakan lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS Al Ahzab : 70) lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al Asr : 3) lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maidah : 8)

1. Bersikap cermat, jujur dan ikhlas karena Allah, baik dalam mengerjakan pekerjaan yang bertalian dengan agama Allah maupun dengan urusan duniwi
2. kebencian terhadap suatu kaum tidak mendorongnya untuk tidak berbuat jujur atau tidak berlaku adil
3. Adil dalam memberikan kesaksian tanpa melihat siapa orangnya walaupun akan merugikan diri sendiri, sahabat dan kerabat.
4. Keadilan ditegakkan dalam segala hal karena keadilan menimbulkan ketentraman, kemakmuran dan kebahagiaan. Ketidak adilan hanya akan menimbulkan hal sebaliknya

F. Mengendalikan Diri

Manusia diberi akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT, dua hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga manusia disebut makhluk paling sempurna. Seringkali hawa nafsu membawa seseorang cenderung ke arah keburukan sehingga setiap orang harus mampu mengendalikannya. Hawa nafsu dapat membawa kebaikan selam ia mampu diarahkan, tetapi akan menjerumuskan kepada kejahatan bila dibiarkan tanpa arah yang jelas. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Maka pernahkah engkau meelihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Dan Allah membiarkannya sesaat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk setelah Allah (membuarkan sesat). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS Al Jasiyah : 23)

Banyak orang yang meninggalkan petunjuk yang baikdan menuruti kemauan hawa nafsunya dan menjadikannya sabagai tuhan yang ditaati selain Allah. Betapa tidak, karena apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu tersebut dia akan segera lakukan tanpa malu dan segan sehingga tidak takut untuk melakukan kejahatan dan kezaliman. Mereka tidak takut kepada Allah, apalagi kepada sesamanya. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya

Orang yang menurut hawa nafsunya sangat dimurkai oleh Allah dan disamakan dosa dan bahayanya orang-orang yang menyembah berhala dan memuja benda-benda yang ada dibumi.

Nafsu mengandung ketertarikan sahwat untuk mencari kelezatan jasamani dan rohani sehingga mudah menerima godaan dan bujukan setan. Nafsu manusia ada tiga macam yaitu sebagai berikut.

1. Nafsu amarah yaitu nafsu yang menyuruh kepada keburukan

2. Nafsu lawanah yaitu nafsu yang suka mencela atau mengecam

3. Nafsu mutmainnah ayitu nafsu yang tenang dan tentram

Apabila nafsu manusia mengikuti sahwatnya, inilah yang disebut nafsu amarah. Apabila nafsu itu telah melakukan hal yang buruk , hadirlah nafsu lawamah yang mencela dan mencaci perbuatan buruk yang dilakukannya karena mengikuti nafsu sahwatnya. Apabila nafsu itu telah menyesalatas perbuatan jahat yang dilakukannya, perasaan itu timbul dari nafsu mutmainah . Didalam surat Al Baqarah : 169 Allah berfirman. lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya :“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji. Dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al Baqarah : 169

Allah berfirman dalam surat lainnya lihat Al-qur,an on line di gogle

Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku. Sesungguhnya tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS Yusuf : 53)

Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan yang artinya : “Orang yang kuat bukanlah orang yang jagoan dalam gulat, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR Muttafqun Alaih)

KITAB-KITAB ALLAH SWT (Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Zabur, Taurat, Injil, Al Quran)

Pengertian Kitab-Kitab Allah swt
Al Kutub secara bahasa berarti kitab-kitab Allah. Sedangkan secara istilah adalah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah swt kepada rasul-rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh umat manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kewajiban Manusia Terhadap Kitab-Kitab Allah swt
1. Beriman bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah swt.
2. Beriman kepada kitab-kitab yang sudah kita kenal namanya seperti shuhuf Ibrahim dan Musa, Zabur, Taurat, Injil, dan Al Quran.
3. Membenarkan seluruh berita-berita yang terdapat di dalam Al Quran, juga berita-berita yang terdapat di dalam kitab-kitab terdahulu yang belum diganti atau diselewengkan.
4. Mengerjakan seluruh hukum yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut yang belum dinasakh oleh Al Quran serta rela dan tunduk pada hukum tersebut, sebagaimana firman allah swt di dalam Al Quran yang artinya:

“Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah : 97)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. Al Maidah : 48)

Dalil-dalil Yang Mewajibkan Iman Kepada Kitab-Kitab Allah swt

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya..” (QS. An Nisaa : 136)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. Al Maidah : 48)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 44)

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah : 46)

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Faathir : 31)

Kitab-Kitab Samawi Yang Disebutkan Di dalam Al Quran

1. Shuhuf Ibrahim

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. Al A’la : 14-19)

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm : 36-37)

2. Shuhuf Musa

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. Al A’la : 14-19)

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm : 36-37)

3. Taurat

“Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 53)

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (QS. Ali Imran : 3)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 44)

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” (QS. Al An’am : 91)

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah : 46)

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran : 48)

4. Zabur

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. An Nisaa : 163)

“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna” (QS. Al Baqarah : 184)

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa : 105)

“Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. Al Israa’ : 55)

5. Injil

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (QS. Ali Imran : 3)

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah : 46)

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran : 48)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath : 29)

6. Al Quran

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (QS. Al Baqarah : 2)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf : 2)

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (QS. Al Furqaan : 1)

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.” (QS. Al Qalam : 51-52)

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Huud : 17)

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. Yunus : 37)

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fushshilat : 44)


Nama-Nama Lain Al Quran

1. Al Furqon

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (QS. Al Furqaan : 1)

2. At Tanzil

“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),” (QS. Asy Syu’araa : 192-193)

3. Adz Dzikru

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)

4. Al Kitab

“Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dhukaan : 1-3)

5. Al Quran

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, ” (QS. Al Israa’ : 9)
Sifa-Sifat Al Quran

1. Nuur

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).” (QS. An Nisaa : 174)

2. Mubin

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).” (QS. An Nisaa : 174)

3. Huda

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

4. Syiifa

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

5. Rahmah

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

6. Mau’idzah

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

7. Basyir

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.” (QS. Al Baqarah : 19)

8. Nazir

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.” (QS. Al Baqarah : 19)

9. Mubarok

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shaad : 38)


Kedudukan Al Quran

1. Al Quran adalah manhaj tarbiyah islamiyah
2. Al Quran sebagai kitab syari’ah
3. Al Quran sebagai petunjuk jalan dalam kehidupan ini
4. Al Quran sebagai penyeru kepada penghayatan (taddabur) ayat-ayat Allah swt di dalam Al Quran atau alam ini
5. Al Quran sebagai mashdar ma’rifah (referensi) sejarah yang mulia

Hikmah Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

* Mengetahui hikmah Allah swt dalam syara’ atau hukumnya sehingga menetapkan hukum sesuai dengan tabiat dan keadaan setiap umat

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. Al Maidah : 48)

* Menyadarkan kita akan kasih sayang Allah swt sehingga kita harus mensyukuri segala bentuk nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita.
* Meyakinkan kita bahwa Islam adalah risalah seluruh nabi dan rasul
* Mengetahui perhatian Allah swt terhadap seluruh hamba-Nya sehingga menurunkan kitab yang menjadi hidayah bagi setiap umat.

Dakwah, Khutbah, Tablig

Yang paling tinggi dan paling luas cakupannya adalah dakwah. Di dalam dakwah ada beberapa jenjang aktifitas. Salah satunya adalah tabligh. Jadi tabligh itu bagian dari dakwah, tetapi dakwah bukan hanya semata-mata tabligh. Selain tablig, dalam jenjang aktifitas dakwah juga mengenal taklim. Yang bersifat lebih intensif dari sekedar tabligh. Ada juga takwin, yang jauh lebih intensif lagi dari taklim dan tabligh.
Tabligh sendiri berarti menyampaikan. Dari kata ballagha - yuballighu. Di dalam tabligh, yang menjadi inti masalah adalah bagaimana agar sebuah informasi tentang agama Islam bisa sampai kepada objek dakwah. Tapi tidak ada tuntutan lebih jauh untuk mendalami suatu masalah itu.
Berbeda dengan taklim, di mana intensitasnya lebih dalam. Orang-orang yang masuk dalam program taklim punya beban lebih, yaitu belajar dan mendalami masalah-masalah yang lebih dari ajaran Islam.
Sedangkan istilah khutbah dan ceramah sesungguhnya merupakan media dalam bertabligh. Khutbah itu identik dengan khutbah jumat, yang hukumnya wajib diselenggarakan tiap hari Jumat. Meski pun di luar khutbah jumat juga kita mengenal adanya khutbah nikah, khutbah ''Idul Fithri dan ''Idul Adha. Sedangkan ceramah sifatnya agak bebas, tidak ada ketentuan waktu dan kesempatannya. Misalnya ceramah maulid, pengajian dan sejenisnya.
Khutbah Jumat
Khutbah jumat punya syarat dan rukun yang tidak boleh ditinggalkan, sebab terkait erat dengan sah atau tidaknya sebuah ibadah mahdhah. Sedangkan ceramah agak bersifat bebas, bisa dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, dalam event apa saja, dan tidak punya syarat dan rukun.
Rukun Khutbah Jumat:

1. Mengucapkan hamdalah.
2. Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
3. Menyampaikan wasiat atau pesan untuk taqwa.
4. Membaca sebagian ayat Al-Quran pada salah satu dari dua khutbah (sebaiknya di khutbah pertama).
5. Mendoakan umat Islam pada salah satu dari dua khutbah (sebaikya di khutbah kedua).

Syarat Sah Khutbah Jumat:

1. Khatibsuci dari hadats kecil dan besar.
2. Khatibsuci dari najis baik di tubuh, pakaian maupun tempat.
3. Khatibmenutup aurat seperti shalat.
4. Khatibberdiri bila mampu.
5. Khatibduduk di antara dua khutbah.
6. Khutbah pertamabersambung dengan khutbah kedua.
7. Khutbah keduabersambung dengan shalat Jumat.
8. Rukunnyayang paling asasi disampaikan dalam bahasa Arab, meski tambahannya boleh dengan bahasa selain Arab.
9. Khutbah itu didengarkan/dihadiri oleh minimal 40 orang yang wajib atasnya shalat jumat (mazhab Asy-Syafi''i)
10. Khutbah dilakukan masih pada waktu Dzhuhur

Pada waktu khutbah Jumat, memang diharamkan berbicara. Karena itu kalau ingin menyelenggarakan shalat Jumat yang kebanyakan dihadiri oleh anak-anak, perlu penanganan khusus sebelumnya. Pelajaran shalat yang pertama kali buat anak-anak itu bukan bagaimana bacaan shalat atau gerakannya, tetapi bagaimana adab berada di masjid.
Pendidikan adab di dalam masjid ini harus bisa menjadi anak-anak itu beisa tenang di dalam masjid, baik saat shalat jumat, atau pun shalat lainnya. Dan jangan sekali-kali melepas anak masuk ke masjid sebelum dia dinyatakan lulus dalam pendidikan adab di dalam masjid.
Rasulullah SAW memang memerintahkan agar kita menyuruh anak usia 7 tahun untuk shalat, tetapi bukan dimulai dari masjid. Jadi jangan langsung dibawa ke masjid, sementara anak itu belum dibekali dengan adab-adab berada di masjid.
Ini kesalahan paling fundamental dari kebanyakan kita, yaitu kita hanya membekali mereka dengan gerakan dan bacaan shalat, tetapi tidak pernah memastikan bahwa anak itu sudah punya bekal tentang adab-adab berada di masjid. Sehingga masjid menjadi riuh dan bising dengan kehadiran mereka.
Maka anak-anak itu perlu mendapat terapi dan pelatihan yang sangat mendasar tentang adab berada di masjid. Entah bagaimana cara dan tekniknya, pokoknya mereka harus diajarkan bagaimana masuk masjid dan beribadah dengan tenang, khusyu'' dan tidak bersuara saat khutbah disampaikan. Sekedar memarahi dan melarang mereka untuk tidak ribut dan dilakukan hanya saat khutbah jumat adalah pekerjaan yang sia-sia, bahkan menghilangkan pahala jumat.

perawatan jenazah

Merawat Muhtadlir (Orang sekarat pati)

Apabila telah nampak tanda-tanda ajal telah tiba, maka tindakan yang sunah dilakukan oleh orang yang menunggu adalah sebagai berikut:

1. Membaringkan muhtadlir pada lambung sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah qiblat. Jika tidak memungkinkan semisal karena tempatnya terlalu sempit atau ada semacam gangguan pada lambung kanannya, maka ia dibaringkan pada lambung sebelah kiri, dan bila masih tidak memungkinkan, maka diterlentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan di bawah kepala agar wajahnya bisa menghadap qiblat.

2. Membaca surat Yasin dengan suara agak keras, dan surat Ar Ra’du dengan suara pelan. Faedahnya adalah untuk mempermudah keluarnya ruh. Nabi saw. bersabda:

اِقْرَؤُاْ يٰس عَلَى مَوْتٰاكُمْ. (رواه أبو داود)

“Bacakanlah surat yasin atas orang-orang (yang akan) mati kalian”. (HR. Abu Dawud)

Bila tidak bisa membaca keduanya, maka cukup membaca surat Yasin saja.

3. Mentalqin kalimat tahlil dengan santun, tanpa ada kesan memaksa. Nabi Muhammad saw. bersabda:

لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ. (رواه مسلم)

“Tuntunlah orang (yang akan) mati diantara kamu dengan ucapan laailaha illallah”. (HR. Muslim)

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلٰهَ إلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه الحاكم)

“Barangsiapa ucapan terakhirnya kalimat laailaha illallah, maka ia akan masuk surga”. (HR. Hakim)

Dalam mentalqin, pentalqin (mulaqqin ) tidak perlu menambah kata, kecuali muhtadlir (orang yang akan mati) bukan seorang mukmin, dan ada harapan akan masuk Islam. Talqin tidak perlu diulang kembali jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selama ia tidak berbicara lagi. Sebab, tujuan talqin adalah agar kalimat tahlil menjadi penutup kata yang terucap dari mulutnya.

4. Memberi minum apabila melihat bahwa ia menginginkannya. Sebab dalam kondisi seperti ini, bisa saja syaitan menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya.

5. Orang yang menunggu tidak diperbolehkan membicarakan kejelekannya, sebab malaikat akan mengamini perkataan mereka.

Sesaat Setelah Ajal Tiba

Setelah muhtadlir dipastikan meninggal, tindakan selanjutnya yang sunah untuk dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Memejamkan kedua matanya seraya membaca:

بِسْمِ اللهِ وَعَلٰى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ، اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ.

2. Mengikat rahangnya ke atas kepala dengan kain yang agak lebar supaya mulutnya tidak terbuka.

3. Melemaskan sendi-sendi tulangnya dengan melipat tangan ke siku, lutut ke paha dan paha ke perut. Setelah itu dibujurkan kembali dan jari-jari tangannya dilemaskan. Bila agak terlambat sehingga tubuhnya kaku, maka boleh menggunakan minyak atau yang lainnya untuk melemaskan sendi-sendi tulang mayit. Faedah dari pelemasan ini adalah mempermudahkan proses memandikan dan mengkafani.

4. Melepas pakaian secara perlahan, kemudian menggantinya dengan kain tipis yang dapat menutup seluruh tubuhnya, yang ujungnya diselipkan di bawah kepala dan kedua kakinya. Kecuali apabila ia sedang melaksanakan ihram, maka kepalanya harus dibiarkan terbuka.

5. Meletakkan benda seberat dua puluh dirham (20x2,75 gr = 54,300 gr) atau secukupnya di atas perutnya dengan dibujurkan dan diikat agar perutnya tidak membesar.

6. Meletakkan mayit di tempat yang agak tinggi agar tidak tersentuh kelembaban tanah yang bisa mempercepat rusaknya badan.

7. Dihadapkan ke arah qiblat sebagaimana muhtadlir.

8. Segera melakukan perawatan pada mayit, dan melaksanakan wasiatnya.

9. Membebaskan segala tanggungan hutang dan lainnya.

Tajhizul Jenazah (Merawat Mayit)

Tajhizul jenazah adalah merawat atau mengurus seseorang yang telah meninggal. Perawatan di sini berhukum fardlu kifayah, kecuali bila hanya terdapat satu orang saja, maka hukumnya fardlu ‘ain.

Hal-hal yang harus dilakukan saat merawat jenazah sebenarnya meliputi lima hal, yaitu:

1. Memandikan

2. Mengkafani

3. Menshalati

4. Membawa ke tempat pemakaman

5. Memakamkan

Namun, karena kewajiban membawa jenazah ke tempat pemakaman merupakan kelaziman dari kewajiban memakamkannya, kebanyakan ahli fiqih tidak mencantumkannya. Sehingga perawatan mayit hanya meliputi empat hal, yakni memandikan, mengkafani, menshalati dan memakamkannya.

Dari keempat hal yang diwajibkan di atas, pada taraf praktek terdapat beberapa pemilahan sebagai berikut:

1. Orang Muslim

a. Muslim yang bukan syahid

Kewajiban yang harus dilakukan adalah:

1. Memandikan.

2. Mengkafani.

3. Menshalati.

4. Memakamkan.

b. Muslim yang syahid dunia atau syahid dunia-akhirat, mayatnya haram dimandikan dan dishalati, sehingga kewajiban merawatnya hanya meliputi:

a. Menyempurnakan kafannya jika pakaian yang dipakainya tidak cukup untuk menutup seluruh tubuhnya.

b. Memakamkan.

2. Bayi yang terlahir sebelum usia 6 bulan (Siqtu)

Dalam kitab-kitab salafy dikenal tiga macam kondisi bayi, yakni:

a. Lahir dalam keadaan hidup. Perawatannya sama dengan perawatan jenazah muslim dewasa.

b. Berbentuk manusia sempurna, tapi tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Hal-hal yang harus dilakukan sama dengan kewajiban terhadap jenazah muslim dewasa, selain menshalati.

c. Belum berbentuk manusia sempurna. Bayi yang demikian, tidak ada kewajiban apapun dalam perawatannya, akan tetapi disunahkan membungkus dan memakamkannya.

Adapun bayi yang lahir pada usia 6 bulan lebih, baik terlahir dalam keadaan hidup ataupun mati, kewajiban perawatannya sama dengan orang dewasa.

3. Orang Kafir

Dalam hal ini orang kafir dibedakan menjadi dua:

a. Kafir dzimmi (termasuk kafir muaman dan mu’ahad)

Hukum menshalati mayit kafir adalah haram, adapun hal yang harus dilakukan pada mayat kafir dzimmi adalah mengkafani dan memakamkan.

b. Kafir harbi dan Orang murtad

Pada dasarnya tidak ada kewajiban apapun atas perawatan keduanya, hanya saja diperbolehkan untuk mengkafani dan memakamkannya.

Memandikan

Seperangkat peralatan yang harus disiapkan sebelum memandikan mayit adalah daun kelor (Jawa: widara), sabun, sampo, kaos tangan, handuk, kapur barus, air bersih dan sebagainya.

Pada Harta Kita Ada Hak Orang Lain

Islam mengajarkan kepeda ummat manusia untuk bekerja dengan sungguh sungguh dan untuk mendapatkan rizki yang se besar besarnya ” begitu usai sholat, bergeraklah menuju anugah Alloh ” kata Al quran. Maksutnya setelah sholat jangan berpangku tangan saja tapi segeralah bergegas untuk mencari rizki yang halal. Semua yang ada dibumi ini adalah milik Alloh yang dihadiahkan kepada manusia dan makhluq yang lain . Kita diberi hak untuk memanfaatkannya . Namun didalam hak milik kita yang merupakan pemberian Alloh itu ada hak orang lain yang tertindas .yang tidak beruntung dan yang terlunta lunta . Hak orang lain itu harus diberikan.
Nabi Muhammad SAW bersabda ” Barang siapa yang membebaskan kesusahan dan kesulitan hidup seseorang yang beriman maka Alloh akan membebaskan kesulitannya dihari kiamat nanti, Dan siapa yang meringankan beban orang lain, maka Alloh akan memudahkan semua urusannya
baik di dunia maupun di akherat kelak.Alloh senantiasa akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya. ” ( Hadits riwayat Muslim )
Adapun keutamaan sedekah diantaranya adalah :
· Sedekah bisa mencegah mati dalam keadaan jelek
· Orang dermawan itu dekat dengan kebenaran serta dekat dengan sesama
mkhluq dan sebaliknya orang kikir jauh dari kebenaran dan jauh ari makhluq.
- Orang yang dermawan hartanya menjadi barokah karena bersih dari hak hak
orang lain
Syarat bersedekah supaya diterima oleh Alloh
Supaya sedekah yang kita berikan mendapat pahala dari Alloh, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi , diantaranya adalah :
1. Merahasiakan sedekahnya kecuali untuk alasan keteladanan.Kerahasiaan itu
diumpamakan seolah olah apabila tangan kanan bersedekah maka tangan kirinya
tidak tahu . Nabi pernah berpesan kepada Ali ” Sedekah yang di rahasiakan itu bisa
menghentikan murka Alloh dan rizki menjadi barokah .”.
2. Tidak disertai dengan mengundat undat dan menyakiti orang yang diberi sedekah
3. Bersedekah dengan harta yang paling baik dan diperoleh dengan cara yang halal
4. Sedekah diberikan dengan muka yang berseri seri bukan dengan muka yang acuh
dan dengan sikap merendahkan kepada yang diberi
5. Sedekah diarahkan pada yang halal dan pada yang berhak menerima dan jangan
sampai salah sasaran . mis. Sedekah bumi.

3 Macam Ke Dzaliman

1. Dzalim kepada Alloh ( Dzalim yang paling besar )
Yaitu syirik dan kufur kepada Alloh. Dzolim yang semacam ini adalah dzolim yang
tak terampuni.
2. Dzalim yang terjadi pada sesama manusia dan lingkungan . bentuk kedzaliman
yang ini cukup beragam, dan sangat berbahaya jika tidak dicegah karena bisa
menimbulkan kerusakan
baik kerusakan lingkung hidup maupun kerusakan tatanan sosial kemasyarakat ,
tatanan kenegaraan dan juga tatanan sosial kagamaan . mis. Pemimpin yang
berlaku sewenang
wenang terhadap anak buahnya .Pemimpin yang berlaku tidak adil , sehingga ada
pihak pihak yang sangat dirugikan dan disisi lain ada pihak yang terlalu
diuntungkan. Pejabat yang korup
dan menyalah gunakan wewenang untuk kepentingan sendiri.Penggundulan
hutan sehingga menyebabkan penderitaan jutaan orang. Monopoli perdagangan,
curang dalam berdagang, dsb. Termasuk juga dalam kedzaliman yang kedua ini
adalah orang tua yang tidak memberi pendidikan yang baik kepada anaknya
bahkan menerlantarkannya. Maka setiap orang wajib
berusaha untuk mencegah kejahatan ini Hal ini sejalan dengan Hadits Nabi yang
berbunyi

مَنْ رَاَ مِنْكُم مِنْكُرًا فًلْ يُغَيِّرْبِيَدِهِ فَاِنْلَمْ يَسْتَطِْعْ فَبِلِسانِِهْ
فَاِنْلَمْ يَسْتَطِْع فبِقَلَْبِهِْ فَاِنّهُ اَضْفُالْ ايْمَانِ
Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaranm, maka rubahlah dengan
kekuasaan maka jika tidak bias ubahlah dengan kata kata ( Nasehat ) . dan jikan
tidak mampu maka dengan hati sesungguhnya yang demi kian ini adalah se lemah
lemah iman. kita sebagai warga ْmasyarakat wajib menjaga dan mengingatkan agar
tidak terjadi tindak
kedzaliman di tengah tengah masyarakat..
3.Dzalim terhadap diri sendiri , mis, tidak membekali dirinya dengan ilmu penge
tahuan dan ketrampilan , tidak menjaga kesehatan dirinya , membiarkan dirinya
sakit . Kedzaliman yang semacam ini adalah kedzaliman yang terampuni .

Perekonomian Islam

Dalam bidang muamalah ( aspek interaksi sesama manusia ), Islam tidak mengaturnya secara rinci , karena kehidupan manusia itu akan selalu berubah dan bergerak menuju kesempurnaan sampai bumi ini lenyap . Karena itu bentuk bentuk hubungan social politik , ekonomi maupun kebudayaan , manusia diperintahkan untuk mengaturnya sendiri sepanjang tidak keluar dari prinsip prinsip dasar yang telah ditetapkan oleh Islam .

Hal ini berbeda dengan aspek ibadah ( yang menyangkut hubungan antara sesama manusia dan Alloh ) seperti sholat, puasa , haji ,dsb. Alloh dan Rosulnya yang menciptakan nama dan aturannya . Manusia tidak berhak membuat aturan sendiri dan tinggal melaksanakan aturan yang dibuat oleh Alloh dan Rosulnya.

Dalam hal ini kita bisa menengok sejarah social bangsa arab Pada masa Nabi Muhammad SAW Dimana beliau tidak menghapus begitu saja transaksi yang sudah baik yang sudah diterapkan masyarakat arab dalam kehidupan se hari hari dan Nabi hanya mengkoreksi dan membatalkan transaksi transaksi yang bertentangan dengan prinsip prinsip Islam

Bentuk bentuk transaksi yang pada waktu itu dilaksanakan ummat Islam dizaman Nabi dalam kesehariannya misalnya , Qirod, Muzaro’ah, Mukhobaroh, mudzarobah,dsb. Bentuk bentuk ini hanya digunakan sebagai acuan untuk menciptakan transaksi transaksi baru yang sesuai dengan perkembangan zaman namun tidak menyimpang dengan rambu rambu yang telah ditetapkan oleh syarak.

Adapun prinsip prinsip dasar yang harus dilaksanakan dalam bertransaksi dengan sesama manusia a.l

Tidak saling mendzolimi
Tidak saling merugikan
Tidak melakukan transaksi yang bersifat spikulasi naïf ( judi )
Tidak melakuakn renten

Jadi bentuk bentuk transaksi yang ada saat ini mis. Asuransi, pembelian dengan menggunakan kartu kredit , pembayaran dan pembelian lewat ATM, jual beli saham, apakah model transaksi itu produk barat atau produk siapasaja , kita tidakbisa mengklim tentang halal atau haramnya, harus kita kaji terlebih dahulu apakah didalamnya ada bentuk bentuk transaksi yang menyimpang dari rambu rmbu yang telah ditetapkan oleh Islsm.

Jumat, 25 Maret 2011

Taubat dan raja

TAUBAT

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertaubat agar mereka beruntung. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat An-Nur ayat 31 yang artinya “ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Q.S. An Nur (24) : 31) dalam ayat lain dikatakan (Q.S. Al Baqarah (2) : 222) yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang mensucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah (2) : 222).

Arti Taubat

Menurut bahasa, arti taubat adalah kembali. Maksudnya, kembali dari segala yang tercela menurut agama Islam , menuju semua hal yang terpuji. Taubat apabila dibahasakan secara ringkas adalah meninggalkan atau menyesali dosa dan berjanji tidak mengulanginya lagi. (penyesalan atas semua perbuatan tercela yang pernah dilakukan).

Untuk membersihkan hati dari dosa yang pernah dilakukannya, manusia diperintahkan untuk bertaubat. Tobat merupakan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allah SWT memerintahkan dalam hal taubat ini berupa taubat yang semurni-murninya sebagaimana firman-Nya dalam suart At Tahrim (66) ayat 8 yang artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (Q.S. At Tahrim (66) : 8).

Nabi Muhammad SAW, meskipun telah dijamin atau terpelihara dari segala dosa (maksum), tetap bertaubat dan mohon ampun kepada Allah SWT. Berbicara masalah taubat, ternyata berkaitan erat dengan istighfar yaitu memohon ampun dari semua dosa kepada Allah SWT dengan menundukkan hati, jiwa dan pikiran. Istighfar tidak hanya melisankan dengan “astghfirullahal “adzim”, tetapi harus disertai dengan keseriusan dan harapan untuk memperoleh ampunan Allah SWT. (pelajari Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 286 dan Surat At Tahrim (66) ayat 8).

Tahapan Taubat

Dalam bertaubat, ada tiga tahapan, tahap pertama yaitu berpaling dari dosa karena takut kepada Allah SWT. Tahapan seperti ini merupakan tahapan orang mukmin biasa. Kedua yaitu inabat, yaitu taubat karena ingin mendapat balasan atau pahala dari Allah SWT, Inabat merupakan tahapan para wali dan yang diridhai Allah SWT. Ketiga yaitu aubat, aubat adalah taubat karena mematuhi perintah allah SWT, bukan karena menginginkan pahala atau takut kepada Allah SWT. Aubat merupakan tahapan para nabi dan rasul.

Syarat Keberhasilan Taubat

Taubat dinilai sah dan dapat menghapus dosa apabila telah memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Kalangan ahli sunah mengemukakan bahwa keberhasilan taubat tergantung pada tiga syarat:

1. Menyesal atas pelanggaran yang dilakukan

2. Meninggalkan pelanggaran yang dilakukan dengan segera

3. Memutuskan untuk tidak kembali kepada maksiat

Setelah ketiga syarat tersebut dipenuhi, diiringi atau diikutinya dengan perbuatan yang baik. Karena perbuatan baik akan menghapus keburukan. Sebagaimana Firman allah SWT dalam surat Hud ayat 11 yang artinya: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (Q.S. Hud (11) : 114)

ROJA’

Raja’ berarti harapan. Maksudnya adalah mengharap ridha Allah SWT. Raja’ termasuk akhlak yang terpuji yaitu suatu akhlak yang dapat berguna untuk mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Sebagai muslim dan muslimah tentunya mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Supaya harapan tersebut dapat tercapai maka harus menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.dan tidak lupa untuk berdo’a. Dalam surat Al Mukmin (40) ayat 60 dikatakan: Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Q.S. Al Mukmin (40) : 60).

Seorang yang beriman kepada Allah SWT tentunya memiliki sifat raja’. Dengan sifat raja’ tersebut maka akan tercermin suatu sikap yang khusnudzon, berhaluan maju, dan berpikir yang islami.

Khusnudzon adalah sifat yang terpuji yaitu sifat yang menunjukkan prasangka yang baik. Sifat kebalikannya adalah su’udzan yaitu suatu prasangka buruk. Seseorang yang bersifat raja’ akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT, selalu optimis dalam hidup guna meningkatkan kualitas hidup, berusaha sekuat tenaga untuk meraih yang diinginkan, masalah hasil diserahkan kepada Allah SWT

Berhaluan maju artinya dalam hidup dan kehidupan seorang muslim selalu dinamis, terus menerus dan sungguh-sungguh dalam meningkatkan dan mengaktualkan kualitas diri. Kebalikan dari sifat berhaluan maju ialah berhaluan mundur yaitu suatu sifat yang tercela dan menghambat dalam kemajuan dan sangat merugikan. Seseorang yang berhaluan mundur tidak kompetitif, sehingga yang ada adalah kemalasan yang menyebabkan tidak berkualitas.

Berfikir yang Islami adalah suatu sifat yang sehat dan terpuji, tajam dalam analisa dan berusaha untuk menunjukkan kesalahan dan kekurangannya sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah. Dengan berpikir yang islami maka akan sangat terjauhkan dari hal-hal yang bersifat kasar, menyakitkan hati, tempramen, mendengki dan bermusuh-musuhan.

Berpikir yang Islami merupakan berpikir dalam rangka mencari ridho allah SWT, sehingga dengan pemikiran tersebut dapat mengenali dirinya sendiri dengan menyadari bahwa hidup ini tidak lain adalah untuk menyembah kepada Allah SWT yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. (Baca surat Adzariyat ayat 56)

Menyantuni Kaum Duafa

Dalam surah Al-Isra’ Ayat 26-27

Artinya :

26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Kandungan Surah Al-Isra’ Ayat 26-27

1. Allah Swt memerintahkan seorang muslim memberikan hak kepada keluarga,

Orang miskin, dan orang yang sedang perjalanan.

2. Hak yang harus dilakukan seorang muslim terhadap keluarga dekat, orang

miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan adalah mempererat tali

persaudaraan dan hubungan kasih saying, serta membantu meringankan beban

penderitaan yang mereka alami.

3. Hak keluarga dekat misalnya memperoleh penghormatan, kasih sayang, mengunjungi apabila tertimpa musibah, dan ikut gembira ketika memperoleh nikmat.

4. Hak fakir miskin, misalnya memperoleh sedekah, disayangi, dikasihani, dan membantu meringankan beban penderitaannya.

5. Hak ibnu sabil/orang yang dalam perjalanan dengan tujuan baik adalah memberikan bantuan dan pertolongan agar tujuan mereka tercapai.

II. Arti Dari Menyantuni Kaum Duafa

Beserta Orang Yang Pantas Diberi Santunan

Maksud dari menyantuni kaum duafa ialah memberikan harta atau barang yang bermanfaat untuk duafa, kaum duafa sendiri ialah orang yang lemah dari bahasa Arab (duafa) atau orang yang tidak punya apa-apa, dan mereka harus disantuni bagi kewajiban muslim untuk saling memberi, itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt perlu digaris bawahi, bahwa “memberi” tidak harus uang malah kita berikan makanan bisa tapi nanti ibadahnya akan mengalir terus seperti halnya infak dan kalau sudah diberi akan jadi tanggung jawab orang miskin itu, misal saja barang yang diberikan digunakan untuk beribadah kepada Allah atau hal positif lainnya akan terkena pahala yang sama, ketika Dia gunakan tadi, sebaliknya degan digunakan mencopet atau judi kita tidak akan mendapat pahala buruk dari orang miskin itu insya Allah pahalanya tidak akan berkurang setelah memberi kepada orang miskin itu gunakan.

Dan menurut para ulama menyantuni kaum duafa akan menyelamatkan diri kita dari api neraka, tapi sekarang banyak manusia yang segan megeluarkan hartanya untuk berinfak pada kaum duafa, tapi ada juga yang selalu membantu kaum dufa itu, bukan saja yang berarti duafa pada orang miskin juga bisa pada misalnya ; panti asuahan, membangun masjid, kepada diri sendiri, anak yang putus sekolah biayai pendidikannya sampai tingkat SMA , dan keluarga dekat serta orang yang sedang perjalanan, ini sama dijelaskan pada surat Al-isra’ ayat 26-27.

Untuk anak yatim, Islam memerintahkan untuk memeliharanya (1). Memuliakannya (2). Tidak boleh berlaku sewenang-wenang (3). Menjaga hartanya ( kalau ada), sampai anak yatim tersebut dewasa, mandiri dan bisa mengurus hartanya (4).

Seperti dijelaskan dalam hadist bukhari dibawah ini bila seseorang memelihara anak yatim :

(1) Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari)

(2) Surat Al Fajr ayat 17 “Sekali-kali tidak (demikian). Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim”

(3) Surat Adh Dhuhaa ayat 9 “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenag-wenang ”

(4) Al-Isra’ : 34, Al-Baqarah : 220, An-Nisa : 2, An-Nisa : 6

Untuk fakir miskin, kita harus menganjurkan orang untuk memberi makan. Kalau tidak, bahaya, cap kita adalah pendusta agama (5). Fakir miskin juga termasuk kedalam golongan yang berhak menerima zakat pun harta rampasan perang dari umat muslim (6).

Ada Dalam Al-Qur’an ayat berikut :

(5) Al Maun : 3

(6) Al Anam : 141, Al Baqarah : 177, Al Anfaal : 41, Al Hasyr : 7

Perlu ditekankan, bahwa defenisi Islam untuk orang yang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya, dan tidak pernah berfikir untuk diberi sedekah dan tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain (7) . Jadi orang seperti inilah, yang menyebabkan anda menjadi pendusta agama saat tidak menganjurkan untuk memberinya makan. Dan orang seperti inilah yang berhak terhadap zakat dan bagian dalam harta fa’i. dalam hadist buhari dan muslim dijelaskan :

(7) Dari abu hurairah ra. ia berkata rasulullah saw bersabda; "bukan dinamakan orang miskin, orang yang meminta-minta kemudian ia tidak memperoleh sesuap dan dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah butir kurma tapi yang dinamakan orang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak pernah berpikir untuk diberi sedekah dan ia juga tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain (HR Bukhari dan Muslim )

Meminta-minta didalam Islam sangatlah tidak dianjurkan. Ia hanya pilihan untuk kondisi sangat genting. Kepepet kata orang kita. Karena banyaknya keburukan yang didapat dari meminta. Ketika meminta-minta, orang akan otomatis kehilangan keberkahan harta (8). Dan sesuai konteks, meminta itu untuk menyelamatkan diri dari kondisi kepepet,maka harus sedikit saja. Secukupnya untuk menutupi kekurangan yang ada, tidak boleh untuk memperkaya diri, karena sama dengan meminta bara api (9). Untuk itu, dalam kondisi yang melaratpun, umat Islam harus tetap berusaha mandiri dengan jalan halal. Keringanan dengan jalan meminta-minta ini hanya diperbolehkan karena tiga sebab, yaitu : Seperti Hadist No. (10)

- pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya; kemudia ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;

- kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,

- yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan" si fulan benar-benar miskin" maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak.

Dalam hadist riwayat bukhari & muslim Dijelaskan ialah :

(8) Dari hakim bin hizam ra. ia berkata; saya meminta kepada rasulullah saw, maka beliau memberi saya ; kemudian saya meminta lagi kepada beliau dan beliau memberi saya lagi. kemudia beliau bersabda; " Hai hakim, sesungguhnya harta itu memang manis dan mempesonakan. siapa saja mendapatkannya dengan kemurahan jiwa, maka ia mendapatkan berkah, tetapi siapa saja mendapatkannya dengan meminta-minta, maka ia tidak akan mendapatkan berkah, ia bagaikan orang yang sedang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas (yang memberi , lebih baik daripada tangan dibawah ; hakim berkata; wahai rasulullah , demi zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak akan menerima sesatu pun dari seseorang seduah pemberianmu ini sampai saya meninggal dunia (HR Bukhari dan Muslim )

(9) Dari abu hurairah ra ia berkata; rasulullah saw bersabda; "siapa saja yang meminta- minta kepada sesama manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta kekayaan, maka sesusungguhnya ia meminta bara api; sehingga terserah kepadanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya (HR Muslim )

Selain tiga hal diatas, Rasul menyatakan usaha meminta-minta adalah haram.

Dari pemaparan jalan yang ditawarkan Islam diatas jelas bahwa menurunkan Perda Pelarangan Memberi Uang Kepada Pengemis, tidak bijak. Apalagi dengan tujuan utama, kebersihan dan ketertiban. Si Penguasa sama dengan menzalimi pengemis-pengemis dan gelandangan. Tapi terlebih dahulu, dia menzalimi diri sendiri dengan menimbun gunugan dosa kezhaliman.

(10) Dari abu bisyr Qabishah bin al Mukhariq ra, ia berkata; saya adalah orang yang menanggung beban amat berat, maka saya mendatangi rasulullah saw untuk meminta bantuannya meringankan beban itu, kemudia beliau bersabda " tunggulah sampai ada zakat yang datang ke sini, nanti akan aku suruh si amil (pengumpul dan pembagi zakat) untuk memberi bagian kepadamu , kemudia beliau bersabda; Wahai Qabishah , meminta-minta itu tidak diperbolehkan kecuali ada salah satu dari 3 sebab;

- pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya; kemudian ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;

- kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,

- yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan" si fulan benar-benar miskin" maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak,

wahai Qabishah meminta-minta selain disebabkan tiga hal tadi adalah usaha yang haram dan orang yang memakannya berarti ia makan barang haram (HR Muslim )

Taubat dan raja

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata: "Adam a.s. berkata: "Ya Robbi, Engkau telah memenangkan Iblis atasku sehingga aku tidak dapat mengelakkan diri padanya kecuali dengan pertolonganMu." Firman Allah s.w.t.: "Tiada lahir seorang anak keturunanmu melainkan telah aku datangkan kepadanya yang menjaganya dari tipu daya iblis, dan dari jin-jin yang jahat." Adam berkata: "Tambahkan bagiku." Jawab Allah s.w.t.: "Aku beri pahala setiap hasanat sepuluh lipat ganda dan ada harapan ditambah, sedang kejahatan satu lawan satu, dan ada harapan dihapuskan." Adam berkata: "Tambahkan bagiku." Firman Allah s.w.t.: "Taubat tetap diterima selama roh dikandung badan." Adam berkata: "Tambahkan bagiku." Firman Allah s.w.t.: "Qul ya ibadziyal ladzina asrafu ala anfusihim lataq nathu min rahmatillahi innallaha yagh firudzdzunuha jami'a, in nahu hauwal ghafururrahiem." Yang bermaksud: "(Katakanlah: Hai hambaKu yang telah memboros dari menggunakan masa hidup untuk amal yang tidak berguna) kamu jangan putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampunkan semua dosa, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi penyayang.)"
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: "Bahawasanya Wahsyi yang membunuh Hamzah r.a., pakcik Rasulullah s.a.w. menulis surat kepada Rasulullah s.a.w. dari Mekkah: "Sesungguhnya saya ingin masuk Islam tetapi terhalang oleh ayat (Yang berbunyi): Walladzina laa yad-una Allahi ilahanakhoro, wala yaqtuluna nafsallati harramallahu illa bilhaqqi walla yaznun, waman yaf'al dzalika yaiqa atsaamaa. (Yang bermaksud) Dan mereka yang tidak mempersekutukan Allah dengan tuhan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina, dan siapa yang berbuat itu maka ia menanggung dosa-dosa. Sedang saya telah berbuat semua itu, maka apakah ada jalan bagiku untuk taubat?"
Maka turun ayat yang berbunyi: "Illa man taba waamana wa amila amalan salihin fa ula ika yubaddilullahu sayyiantihim hasanaat." (Yang bermaksud): Kecuali orang yang taubat dan beriman soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan dosa-dosa mereka dengan hasanat.
Maka Nabi Muhammad s.a.w. mengirim ayat tersebut kepada Wahsyi lalu dijawab oleh Wahsyi: "Bahawa didalam ayat ini ada syarat iaitu harus beramal soleh, sedang saya belum tahu apakah dapat melakukan amal soleh atau tidak." Maka turun ayat (Yang berbunyi): "Inna Allah la yagh firu yusyroka bihi wayaghfiru ma dunia dzalika liman yasya'u." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni pada siapa yang mempersekutukanNya dan mengampuni semua dosa selain syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya."
Ayat ini dikirimkan kepada Wahsyi. Jawab Wahsyi: "Didalam ayat ini juga ada syarat dan saya tidak mengetahui apakah Allah s.w.t. hendak mengampuni saya atau tidak." Maka turun ayat (Yang berbunyi): "Qul ya ibadiyalladzina ala antusikum, laa' taqnathu min rahmatillahi innallah yagh firudz dzunuba jami a innahu huwal ghafurrahiem." (Yang bermaksud): "Katakanlah: Hai hambaKu yang telah memboros diri, janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampuni semua dosa, sungguh Allah maha pengampun lagi penyayang.
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Sufyan berkata: "Muhammad bin Abdulrahman Assulami menulis surat kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku: Saya duduk dekat Nabi Muhammad s.a.w. diMadinah, lalu ada seorang diantara mereka berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa yang taubat sebelum mati setengah hari, maka Allah s.w.t. memaafkan padanya. Lalu saya bertanya: Benarkah kau mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda demikian? Jawabnya: Ya. Tiba-tiba ada lain sahabt berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum matinya sekira sesaat, maka Allah s.w.t. memaafkan baginya. Kemudian ada yang lain berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum tercabut nyawa dari tenggoroknya maka Allah s.w.t. memaafkan baginya."
Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Mutharrif berkata: "Allah s.w.t. berfirman: Amboi, anak Adam berbuat dosa lalu minta ampun, maka Aku ampunkan tetapi kemudian ia mengulangi dosanya lalu minta ampun, maka Aku ampunkan, amboi kasihan, ia tidak dapat meninggalkan dosanya tetapi ia pula tidak putus harapan dari rahmatKu, hai para MalaikatKu, Aku persaksikan kepada kamu bahawa Aku telah mengampuni baginya."
Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-a'masy dari seorang dari Mughits bin Sumai berkata: "Ada seorang pada ummat-ummat yang dahulu, ia selalu berbuat maksiat, maka pada suatu hari ketika ia sedang berjalan, teringat pada perbuatan-perbuatannya yang lalu, maka ia berdoa: Allahumma ghufranaka (Yang bermaksud) Ya Allah, aku harap ampunanMu sebanyak tiga kali, mendadak ia mati, maka Allah s.w.t. mengampuni baginya."
Muhammad bin Ajlan dari Makhul berkata: "Saya mendapat keterangan bahawa Nabi Ibrahim a.s. ketika diperlihatkan oleh Allah s.w.t. alam malakut dilangit, ia melihat hamba Allah dibumi yang sedang berzina, maka ia berdoa sehingga binasalah hamba itu, kemudian ia melihat orang yang sedang mencuri, maka ia berdoa sehingga dibinasakan oleh Allah s.w.t., lalu Allah s.w.t. berkata kepadanya: "Ya Ibrahim, biarkan urusan hambaKu kerana hambaKu itu diantara ia bertaubat maka Aku memaafkan atau akan melahirkan turunan yang ibadat kepadaKu atau ia memang celaka, maka untuknya telah tersedia jahannam untuk tempatnya dihari kemudian."
Abul-Laits berkata: "Berita ini sebagai dalil bahawa seorang hamba bila bertaubat maka Allah s.w.t. menerima taubatnya dan mengampuninya, kerana itu seharusnya manusia tidak putus harapan dari rahmat Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: "Innahu layaiasu min rouhillah illal qaumul kafirun." (Yang bermaksud) "Sesungguhnya tidak akan patah dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir."
Di lain ayat pula berbunyi: "Wahuwalladzi yaqbalut taubata an ibadihi waya'fu annissanyyi ati." (Yang Bermaksud): " Dialah Allah yang menerima taubat hamba-hambaNya dan memaafkan perbuatan-perbuatan yang jelek (dosa): (Surah: Assuya ayat 25)
Maka seharusnya bagi seorang yang sempurna akal bertaubat pada tiap waktu supaya tidak tergolong pada orang-orang yang dalam derhaka, sebab seorang yang selalu bertaubat tidak dianggap selalu didalam dosa meskipun ia mengulangi dosa itu sehari sampai tujuh puluh kali, sebagaimana riwayat Abubakar Assidiq r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak dianggap terus menerus berbuat dosa orang yang selalu membaca istighfar (minta ampun) meskipun ia mengulangi dalam sehari tujuh puluh kali. Rasulullah s.a.w. juga bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah tiap hari seratus kali."
Ali bin Abi Talib r.a. berkata: "Saya bila mendengar langsung dari Rasulullah s.a.w. maka saya pergunakan dan bila diberitahu oleh lain orang maka saya sumpah jika ia berani sumpah saya percaya. Abu bakar r.a berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak seorang hamba yang berdosa kemudian ia wudhu dengan sempurna kemudian sembahyang dua rakaat dan membaca istisgfar (minta ampun) kepada Allah melainkan diampunkan oleh Allah baginya. Kemudian Rasulullah s.a.w. membaca ayat (Yang berbunyi): "Wa man ya'mal su'an yadh lim nafsa hu tsumma yas tagh firillah yajidillaha ghafura rahiema. (Yang bermaksud): Dan siapa berbuat kejahatan atau aniaya pada diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang."
Dilain riwayat Rasulullah s.a.w. memperdengarkan ayat: "Walladzina idza fa'lahu fahisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastagh faru lidzu-nubihim, waman yagh firudzdzunuba illa Allah, walam yashirru ala maa fa'alu wahum ya'lamun (135) Ula'ika jazaa'uhum maghdiratun min robbihim wa jannatun tajri min tahtihal anharu kholidina fiha wani'ma ajrul amilin (136). (Yang bermaksud): "Dan mereka yang bila berbuat kekejian atau zalim terhadap siri sendiri, langsung ingat kepada Allah lalu minta ampun dari dosa mereka, mengerti benar-benar bahawa tiada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak merahajalela dalam dosanya, sedang mereka mengetahui. Untuk mereka tersedia pengampunan Tuhan dan syurga yang mengalir dari bawahnya beberapa sungai, ekkal mereka didalamnya, sebaik-baik pahala bagi yang beramal." (Surah: Al-Imran 135-136)
Al-Hasan Albashri berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: " Ketika Allah s.w.t. menurunkan iblis laknatullah ia berkata: Demi kemuliaanMu, saya tidak akan melepaskan anak Adam sehingga ia terpisah dengan rohnya, maka dijawab Allah s.w.t.: Demi kemuliaan dan kebesaranKu, saya tidak akan menutupkan jalan taubat dari hambaKu sehingga rohnya berada ditenggoroknya (hampir mati)."
Al-Qasim meriwayatkan dari Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Malaikat yang dikanan lebih kuasa terhadap malaikat yang dikiri, maka bila seseorang berbuat kebaikan, langsung dicatat olehnya sepuluh hasanat dan apabila berbuat kejahatan lalu akan ditulis oleh malaikat kiri, diperingatkan oleh yang dikanan, tahan dahulu kira-kira enam atau tujuh jam, maka bila ia membaca istighfar (minta ampun) atau dicatat apa-apa, dan jika tidak membaca istighfar, lalau dicatat satu kejahatan (sayyi'at)."
Abul-Laits berkata: "Ini sesuai dengan hadis (Yang berbunyi): "Atta'ibu minzda-dzanbi kaman la dzanba lahu." (Yang bermaksud): "Orang yang taubat dari dosa bagaikan tidak berdosa." Dilain riwayat pula berbunyi: "Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, tidak segera dicatat sehingga berbuat dosa yang lain, kemudian jika berbuat dosa lagi, juga tidak ditulis sehingga berbuat dosa yang ketiga, maka jika berkumpul lima dosa, sedang yang lima digantinya lima dosa itu. Maka disitu iblis laknatullah menjerit: Bagaimana saya akan dapat membinasakan anak Adam, sedang saya telah berusaha untuk menjerumuskan lima kali, tiba-tiba dibatalkan dengan satu hasanat, maka hilang semua usahaku itu."
Shafwan bin Assaal Almuradi r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Disebelah barat ada pintu gerbang besar yang dibuat oleh Allah untuk pintu taubat lebarnya sekira perjalanan 40-70 tahun, tetap terbuka dan tidak ditutup sehingga matahari terbit dibarat." Said bin Almusayyab mengertikan ayat (Yang berbunyi): "Innahu kaana awwabina ghafura." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya Allah bagi orang yang selalu kembali kepadaNya maha pengampun." Iaitu orang yang berdosa kemudian bertaubat kemudian berdosa lagi dan bertaubat.
Seorang ahli hikmah berkata: "Sifat orang aarif (yang menegnal Allah s.w.t.) ada enam iaitu:
• Jika ingat kepada Allah s.w.t. maka dia berbangga.
• Jika ingat pada dirinya maka dia merasa rendah.
• Jika melihat ayat-ayat Allah s.w.t. maka dia mengambil iktibar.
• Jika ingin bermaksiat maka dia menahan diri
• Jika ingat maafnya Allah s.w.t. maka dia gembira
• dan Jika ingat dosa-dosanya maka minta ampun
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Azzuhri r.a. berkata: " Pada suatu hari Umar masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w. sambil menangis. maka ditanya:" Ya Umar, mengapakah kau menangis?." Jawabnya: "Ya Rasulullah, dimuka pintu ini ada seoarng pemuda telah membakar hatiku sambil menangis." Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Ya Umar, masukkan dia kepadaku." Maka dimasukkan sambil menangis dan ditanya Nabi Muhammad s.a.w.: "Hai pemuda, apakah yang menyebabkan kau menangis?" jawabnya: "Ya Rasulullah, saya menangis kerana dosa-dosaku banyak sedang aku takut kepada Tuhan yang maha perkasa sedang murka kepadaku." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah kau mempersekutukan Allah s.w.t., hai pemuda?" Jawabnya: "Tidak." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: "Apakah kau membunuh jiwa tanpa hak?" Jawab pemuda itu: ""Tidak." Sabda Nabi Muhammad s.a.w. "Maka Allah s.w.t. akan mengampunkan dosamu walaupun sebesar tujuh petala langit dan bumi dan bukit-bukit." Jawab pemuda itu: "Ya Rasulullah, dosa ku lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukit." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Dosamu lebih ataukah alkursi?" Jawab pemuda itu: "Dosaku lebih besar." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: "Dosamu lebih besar ataukah arsy?" Jawab pemuda itu: "Dosaku leboh besar." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: "Dosamu lebih besar atau maafnya Allah s.w.t.?" Jawab pemuda itu: "Maafnya Allah s.w.t. lebih besar." Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: "Sungguh tidak dapat mengampunkan dosa besar kecuali Allah s.w.t. yang maha besar, yang maha maaf dan ampunanNya. Hai pemuda beritakan kepadaku, apakah dosamu itu?" Jawab pemuda itu: " Jawabnya: "Saya malu dari engkau, ya Rasulullah." Nabi Muhammad s.a.w. menekan: " Beritakan kepadaku apakah dosamu itu?." Jawab pemuda itu: " Ya Rasulullah, saya tukang gali kubur sejak tujuh tahun lalu dan pada suatu hari saya menggali kubur gadis dari kaum Ansar dan setelah saya telanjangi dari kafannya, saya tinggalkan tetapi tidak jauh bangkit hawa nafsuku, maka saya kembali dan mensetubuhi mayit gadis itu hingga puas lalu saya tinggalkan, belum jauh tiba-tiba gadis itu bangkit dan berkata: "Celaka kau hai pemuda, tidakkah malu engkau dari Tuhan yang akan membalas pada hari pembalasan kemudian, bila tiba masanya tiap orang zalim akan dituntut oleh orang yang dianiaya, kau birkan saya telanjang dan kau hadapkan aku dihadapan Allah sebagai orang janabat." Nabi Muhammad s.a.w. mendengar keterangan itu segera bangkit bagaikan terdorong dari belakang sambil berkata: "Hai fasik, alangkah layaknya engkau masuk neraka, keluarlah dari sini." Maka keluarlah pemuda itu bertaubat kepada Allah s.w.t. selama empat puluh hari dan pada malam keempat puluh ia melihat kelangit sambil berkata: "Ya Tuhannya Nabi Muhammad, Nabi Adam dan ibu Hawwa, jika Engkau telah mengampunkan aku maka beritahulah kepada Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, jika tidak maka kirimkan pada aku api dari langit dan bakarlah aku didunia ini, dan selamatkan aku dari siksa akihirat." Maka turun malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan sesudah memberi salam ia berkata: "Ya Muhammad, Tuhanmu memberi salam kepadamu." Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Dialah Assalam, dan daripadanya salam kepadamu dan kepadaNya segala keselamatan." Jibril berkata: "Allah bertanya, apakah kau menjadikan makhluk?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. "Bahkan Allah yang menjadikan aku dan semua makhluk." Lalu ditanya: "Apakah kau memberi rezeki kepada mereka?" Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Bahkan Allah memberi rezeki kepadaku dan mereka." Kemudian ditanya lagi: "Apakah kau memberi taubat kepada mereka?." Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Bahkan Allah memberi taubat kepadaku dan mereka." Lalu Jibril berkata Allah s.w.t. berfirman: " Maafkanlah hambaKu itu kerana Aku telah memaafkan padanya." Maka Nabi Muhammad s.a.w. segera memanggil pemuda itu dan memberitahu padanya bahawa Allah s.w.t. telah menerima taubat kepadanya dan memafkannya."
Abul-Laits berkata: "Seharusnya orang yang berakal memperhatikan kejadian ini dan mengerti bahawa zina dengan yang masih hidup itu lebih besar dosanya daripada zina dengan mayit. Juga harus bertaubat yang betul (sungguh-sungguh) sebagaimana pemuda itu ketika taubatnya benar-benar maka Allah s.w.t. memaafkannya."
Ibn Abbas r.a. ketika menerangkan ayat (Yang berbunyi): "Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha." (Yang bermaksud): "Hai orang yang beriman, taubatlah kamu kepada Allah taubat yang nashuh (Sesungguh-sungguhnya)." Iaitu menyesal dalam hati dan istighfar dengan lidah dan niat tidak akan mengulangi lagi selamanya. Ada riwayat bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Istighfar hanya dengan mulut sedang tetap terus berbuat dosa bagaikan mempermainkan Tuhannya."
Rabi'ah al-Adawiyah berkata: "Istighfarkami ii memerlukan kepada istighfar yang banyak, iaitu istighfar dengan lidah sedang hatinya niat akan mengulangi perbuatan dosanya, maka taubatnya ialah taubat orang yang dusta dan ini tidak bernam taubat sebab syarat taubat ini ada tiga iaitu:
• Menyesal dalam hati
• Istighfar dengan lidah
• dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.
Jika demikian maka pasti Allah s.w.t. mengampunkan baginya walau bagaimana besarnya dosa itu sebab Allah s.w.t. itu suka memaafkan pada hambaNya.
Pernah terjadi pada suatu masa dahulu raja Bani Israil diberitahu bahawa ada seorang ahli ibadah yang taat, maka raja itu tertarik sehingga ia memanggil orang ibadat itu dan diminta supaya suka menjadi sahabat raja dan sering datang keistana. Maka oleh orang ibadat itu menjawab: "Tawaran tuan raja itu baik tetapi bagaimana andaikan pada suatu hari saya bermain-main dengan babu raja, bagaimana tuan raja akan berbuat terhadap aku?" Tiba-tiba raja itu menjadi marah dan berkata: "Hai pelacur, kau berani berbuat itu didepabku?" Lalu ahli ibadat itu berkata: "Saya telah mempunyai Tuhan yang sangat pemurah, andaikan saya berbuat tujuh puluh kali dosa, nescaya tidak murka dan tidak mengusir aku bahkan tidak dikurangi rezekiku, maka bagaimana saya akan meninggalkan pintu Tuhan dan pindah pada orang sudah marah kepadaku sebelum aku bersalah, maka bagaimana kalau benar0benar engkau melihat aku telah berbuat salah (dosa) itu." Kemudian dia keluar dari istana raja itu.
Abul-Laits berkata: "Dosa ada dua macam iaitu dosa antara kamu dengan Allah s.w.t. dan dosa antara kamu dengan semua manusia. Adapun antara kamu dengan Allah s.w.t. maka syarat taubatnya ada tiga iaitu:
• Menyesal dalam hati
• Istighfar dengan lidah
• dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.
Maka siapa yang melakukan tiga syarat ini, tidak bangun dari tempatnya melainkan sudah diampunkan oleh Allah s.w.t. kecuali jika ia meninggalkan salah satu fardhu yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. maka tidak berguna taubatnya selama belum menyelesaikan kewajipan terhadap dirinya itu, lalu menyesal dan istghifar. Adapun dosa yang terjadi antaramu dengan sesama manusia maka selama mereka belum menghalalkan, maka tidak berguna bagimu taubat."
Seorang ulama tabi'in berkata: "Adakalanya seorang yang berdosa, selalu teringat akan dosa dan menyesal serta minta ampun sehingga ia masuk syurga, sehingga syaitan laknatullah mengeluh: Celaka diriku, andaikan aku tahu nescaya tidak aku jerumuskan ia kedalam dosa itu."
Abubakar Alwasithi berkata: "Sabar tidak keburuan dalam segala perbuatan itu baik kecuali dalam tiga macam iaitu:
• Ketika tiba waktu sembahyang maka harus segera dilaksanakan
• Ketika kematian harus segera diselesaikan dan dikuburkan secepat mingkin dan
• Ketika akan taubat dari dosa maka jangan ditunda
Seorang Hakiem berkata: "Taubat seorang akan ternyata dalam empat macam iaitu:
• Jika telah dapat mengendalikan lidahnya daripada dusta, ghibah dan kata-kata yang tidak penting baginya
• Jika sudah tidak ada rasa hasud, dengki, iri hati terhadap semua manusia
• Jika telah menjauhi teman-teman yang busuk dan
• Selalu siap menghadapi maut, rajin dalam taat dan selalu istighfar menyesali dosa.
Seorang Hakiem ditanya: "Apakah ada tanda bahawa taubat itu telah diterima?" Jawabnya: "Ya, ada empat tanda iaitu:
• Putus hubungan dengan kawan-kawan yang tidak baik dan bersahabat dengan orang-orang solihin
• Menghentikan semua maksiat dan rajin melakukan taat
• Hilang rasa kesenangan kepada dunia kepada hatinya dan selalu ingat kesusahan akhirat
• Percaya pada jaminan Allah s.w.t. dalam soal rezeki, lalu sibuk mengerjakan perintah Allah s.w.t.
Maka bila terdapat semua sifat itu ia termasuk pada ayat yang berbunyi: "Innallaha yuhibbuttawwabina wa yuhibbul metathahirin. (Yang bermaksud): "Sesungguhnya Allah kasih pada orang yang taubat dan kasih pada orang yang suka bersuci." Kemudian ia berhak dari orang-orang empat macam iaitu:
• Mereka cinta kepadanya kerana Allah telah cinta kepadanya
• Mereka akan memeliharanya dengan selalu mendoakannya
• Mereka lupa terhadap dosa-dosanya yang lalu
• Mereka selalu mendekat dan membantu serta mendekatinya
Dan Allah s.w.t. akan memuliakannya dengan empat macam perkara iaitu:
• Melepaskannya dari dosa sehingga seolah-olah tidak pernah berdosa
• Dicintai Allah s.w.t.
• Dipeliharanya dari gangguan syaitan laknatullah
• Diamankan dari rasa takut sebelum keluar dari dunia
Seperti mana firman Allah s.w.t. yang berbunyi: "Tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhafu wala tahzanu, waabsyiru bil jannatillati kuntum tu'adun." (Yang bermaksud): "Akan turun kepada mereka malaikat yang memberitahu supaya jangan takut dan jangan susah dan sambutlah khabar baik kamu akan masuk syurga yang telah dijanjikan untukmu."
Khalid bin Ma'dan berkata: "JIka orang-orang yang taubat itu telah dimasukkan kesyurga mereka bertanya: "Tidakkah Tuhan berjanji bahawa kami akan melewati neraka sebelum masuk syurga?" Maka dijawab: "Ketika kamu melaluinya ia sedang padam."
Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Ketika selesai melaksankan hukum rejam terhadap wanita yang berzina sehingga mati, lalu menyembahyangkannya, ditegur oleh sebahagian sebahat Rasulullah s.a.w.: Ya Rasulullah, engkau yang menghukum rejam kemudian kamu sembahyangkannya?" Jawab Rasulullah s.a.w.: Sungguh ia telah taubat yang andaikan ia berbuat tujuh puluh kali seperti itu nescaya diampunkan Allah, yakni ia telah taubat benar-benar dan taubat yang benar-benar itu pasti diterima meskipun bagaimana besarnya dosa, tetap akan diampunkan."
Juga diriwayatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang mengejek seorang mukmin kerana dosa, maka ia bagaikan yang mengerjakannya danlayak bila Allah menjerumuskannya kedalam dosa itu. Dan siapa yang mengejek orang mukmin kerana suatu dosa, maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga melakukan dosa itu dan terbuka rahsianya dimuka umum sehingga merasakan malunya."
Abul-Laits berkata: "Seorang mukmin tidak sengaja berbuat dosa sebab Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Wa karraha ilaikumul kufra walfusuqa wal ishyan." (yang bermaksud): "Ddan Allah membencikan kepadamu kekafiran, kefasikan dan maksiat." Kerana itu seorang mikmin tidak mungkin sengaja berbuat dosa tetapi boleh terjadi padanya disaat ia lalai, tidak kuat menahan nafsu syahwat yang sedang meluap, kerana itu tidak boleh dicemuhkan, jika ia telah bertaubat.
Ibn Abbas r.a. berkata: "Jika seorang hamba taubat dan diterima oleh Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. melupakan malaikat yang mencatat amal apa yang telah mereka tulis, juga anggota badannya pun lupa apa yang pernah dilakukan dari dosa, juga Allah s.w.t. melupakan bumi dimana ia berbuat dosa diatasnya, supaya ia datang pada hari kiamat dan tiada sesuatupun yang menyaksikan perbuatan yang pernah dilakukan itu.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Tertulis dikeliling arsy sebelum dijadikan makhluk sekira empat ribu tahun: "Wainni laghaffarun liman taba wa aamana wa amila shaliha tsumahtada. (Yang bermaksud): Sesungguhnya Aku (Allah s.w.t.) maha pengampun bagi siapa yang taubat dan beriman dan beramal soleh dan mengikuti petunjuk."
Abil-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan bab pintu taubat, lalu ditanya oleh Umar bin Alkhoththob: "Apakah pintu taubat itu, ya Rasulullah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Pintu taubat itu dihujung barat, mempunyai dua daun pintu dari emas bertaburkan mutiara dan yaqut, antara kedua tiang pintu itu sejauh perjalanan empat puluh tahun bagi orang yang berkenderaan kencang (cepat) dan pintu itu tetap terbuka sejak dijadikan Allah hingga malam yang akan terbit matahari pada paginya, dan tiada seorang hamba yang taubat benar-benar melainkan masuk taubatnya dari pintu itu. Mua'dz bin Jabal r.a. bertanya: "Ya Rasulullah, apakah taubat nashuh itu?" Jawab Rasulullah: "Ialah menyesal atas perbuatan dosanya dan niat tidak akan mengulangi lagi, kemudian minta mapun kepada Allah s.w.t. Kemudian matahari dan bulan terbenam dipintu itu, lalu tertutup kedua daun pintu itu bagaikan tidak ada retaknya, maka ketika itu tidak lagi diterima taubat dan tidak diterima amal yang baru sesudah tertutup pintu itu, dan semua orang menurut keadaannya sebelum itu, jika ia baik maka dilanjutkan kebaikannya, sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi):Yauma ya'ti ba'dhu aayati robbika la yanfa'u nafsan imanuha lam takun amanat min qablu au kasabat fi imaniha khoiro. (Yang bermaksud): "Pada saat tibanya sebahagian ayat-ayat Tuhanmu, maka tidak berguna bagi seseorang iman yang baru, bila tidak beriman sejak sebelumnya, atau telah berbuat dimasa imannya dahulu kebaikan."
Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: "Taubat nashuh itu ialah sesudah taubat tidak mengulangi lagi, dan pintu taubat itu yeyap terbuka dan diterima dari siapapun kecuali tiga iaitu:
• iblis laknatullah iaitu induk semua kekafiran
• Qabil iaitu induk dari semua yang sial dan celaka dan
• orang yang membunuh nabi
Sedang pintu taubat itu disebelah barat lebarnya kira-kira perjalanan emapt puluh tahun tidak akan ditutup sehingga ternit matahari daripadanya (dari barat).
Abul -laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Taubat itu tergantung diudara, berseru siang malam tidak berhenti-henti: Siapa yang akan menerima aku, tidak akan tersiksa dan keadaan itu selamanya, sehingga matahari terbit dari barat, maka apabila matahari telah terbit dari barat, maka ia terangkat."
Semua keterangan ini menganjurkan supaya bertaubat dan siapa yang bertaubat akan diterima taubatnya sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): "Wa tubu ilallahi jami'a ayyuhal mu'minun la'allakum tuflihun." (Yang bermaksud): "Dan taubatlah kamu semua hai orang-orang mukminun supaya kamu bahagia. Selamat dari siksaNya dan mencapai rahmatNya." Sesungguhnya taubat itu pembuka dari segala kebaikan dan menyebabkan keselamatnnya dan kebahagiaan tiap mukmin. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha, asa rabbukum an yukaffira ankum sayyiatikum, wa yud khilkum jannatin tajri min tahtihal anharu." (Yang bermaksud): "Hai orang-orang yang beriman, taubatlah kamu dengan sungguh-sungguh kepada Allah, semoga Tuhan menghapuskan dosa-dosamu dan memasukkan kamu kesyurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai." (Surah: Attahrim: ayat 8)
Dan ayat yang lain pula berbunyi: "Walladzina idza fa'alu fa hisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastaghfaru lidzunubihim, waman yaghfirudz dzunuba illallahu, walam yashirru ala ma fa'alu wahum ya'lamun." (Yang bermaksud): "Dan mereka yang bila berbuat dosa besar yang keji atau aniaya pada dirinya (berbuat dosa kecil), lalu ingat kepada Allah dan minta ampun untuk dosanya, kerana tidak ada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak tetap selalu berbuat dosa, sedang mereka mengetahui akan dosa maksiat." (Surah Al-Imran ayat 135)
Said bin Abi Burdah meriwayatkan dari ayahnya dari neneknya berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya membaca istighfar minta ampun dan taubat tiap hari seratus kali." Dilain riwayat pula: "Hai manusia, taubatlah kamu kepada Allah, maka saya bertaubat kepada Allah tiap sehari semalam seratus kali."
Apabila Nabi Muhammad s.a.w. beristighfar dan taubat tiap hari seratus kali, padahal telah diampuni oleh Allah s.w.t. semua dosanya yang lalu dan yang akan datang, maka bagaimana kita yang belum mengetahui apakah diampunkan atau tidak? Apakah tidak selayaknya taubat tiap waktu dan tidak berhenti-henti membaca istighfar.
Ibn Abbas r.a. ketika mentafsirkan ayat yang berbunyi: "Bal yuridul insanu liyafjura amamah." (Yang bermaksud): "Bahkan manusia itu mengutamakan dosanya dari menunda-nunda taubatnya." Ia selalu berkata: "Kelak akan taubat sehingga tibalah maut dalam keadaan yang sejelek-jeleknya ia mati."
Juwaibir meriwayatkan dari Adhdhahhak dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: " Pasti akan binasa orang yang menunda-nunda (Yang selalu berkata kelak saya akan taubat)."
Maka seharusnya tiap manusia taubat pada tiap waktu sehingga bila tiba maut ia sudah taubat, sedang Allah s.w.t. telah berjanji dalam ayatNya yang berbunyi: "Wahuwalladzi yaqbaluttaubata anibadihi waya'fu anissayyi'at." (Yang bermaksud): "Dialah Allah yang menerima taubat hambaNya dan memaafkan segala kesalahan (kejahatan) Yakni asalkan bertaubat dan minta ampun, maka Allah akan mengampunkan.
Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata: "Siapa yang membaca (ayat yang berbunyi): "Astaghfirullahal adhiem alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atu bu ilaihi." (Yang bermaksud) Saya mohon ampun kepada Allah yang maha agung, yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang hidup berdiri sendiri mengatur makhlukNya dan bertaubat kepadaNya." sebanyak tiga kali maka akan diampunkan semua dosa-dosanya meskipun sebanyak buih dilaut.
Ayyub meriwayatkan dari Abu Qabilah berkata: "Ketika Allah s.w.t. mengutuk iblis laknatullah maka ia minta ditunda, maka Allah s.w.t. meluluskan permintaannya, maka iblis laknatullah berkata: "Demi kemuliaanMu, aku tidak akan keluar dari dada hambaMu sehingga keluar rohnya. Dijawab Allah s.w.t.: "Demi kemuliaan dan kebesaranKu, tidak akan aku tutup pintu taubat pada hambaKu sehingga keluar rohnya." Maka perhatikan bagaimana kasih rahmat Allah s.w.t. pada hambaNya, tetapi menamakan mereka orang-orang mukminin sesudah mereka berdosa sebagaimana ayat 31, surah Annur (Yang berbunyi): "Wa tubu ilallahi jami'a ayyuhal mukminun la'allakum tuflihun." (Yang bermaksud): "Dan taubatlah kamu semua kembali kepada Allah, hai orang-orang muminin supaya kamu untung selamat dan bahagia."
Dan Allah s.w.t. menyatakan kasih kepada orang yang bertaubat didalam ayat yang berbunyi: "Innal-laha yubih buttawwabina wayuhibbul mutathohhirin." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada orang yang taubat dan suka pada orang yang bersuci."
Rasulullah s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): "Atta'ibu minadzdzanbi kaman ladzanba lahu." (yang bermaksud): "Orang yang taubat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak berdosa."
Ali bin Abi Thalib r.a. diberitahu oleh orang: "Saya telah berbuat dosa." Ali berkata: "Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi." Lalu orang itu berkata: "Saya telah taubat tetapi saya ulangi lagi." Ali berkata: "Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi lagi." Orang itu bertanya: "Sampai bilakah?" Jawab Ali r.a.: "Sehingga syaitan laknatullah yang kecewa dan menyesal."
Mujahit ketika menerangkan ayat yang berbunyi: "Innamattaubatu alallahi lilladzina ya'malunassu'a bijahalatin tsumma jatubuna min karib." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya taubat itu terhadap mereka yang berbuat dosa dengan kebodohan kemudian bertaubat tidak lama." (surah Annisa ayat 17) Mujahid berkata: "Asalkan belum mati, maka ia bererti segera dan tidak lama."
Abuhurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jika seorang berbuat dosa lalu berkata: "Ya Tuhan, saya telah berbuat dosa maka ampunkan bagiku. Allah s.w.t. menjawab: "HambaKu telah berbuat dosa, tetapi ia sedar mengetahui bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampunkan atau menuntut dosanya maka Aku ampunkan baginya."
Ini kerana kehormatan Rasulullah s.a.w. Sedang pada ummat-ummat yang dahulu jika berbuat dosa maka diharamkan apa yang tadinya halal dan bila seorang berbuat dosa maka langsung dipintu rumahnya ada keterangan Fulan bin Fulan telah berbuat dosa atau dibadannya. Dan cara taubatnya harus berbuat sebegini.
Bagi ummat Rasulullah s.a.w. dimudahkan dengan ayat yang berbunyi: "Waman ya'mal su'an au yadh nafsahu tsumma yastagh firillaha yajidil-laha ghafura rahiema." (Yang bermaksud): "Dan siapa yang berbuat dosa atau kesalahan bagi dirinya, kemudian minta ampun kepada Allah, tentu ia mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang."
Keran itu maka tiap muslim harus bertaubat kepada Allah s.w.t. tiap pagi dan petang. Mujahid berkata: "Orang yang tidak bertaubat tiap pagi dan petang maka termasuk orang yang zalim (aniaya) terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana wajib juga menjaga sembahyang lima waktu sebab Allah s.w.t. menjadikan sembahyang lima waktu itu sebagai penyuci dosa-dosa kecil yang terjadi sehari-hari dan tidak terasa."
Alqamah dari Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Seorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: "Ya Rasulullah, saya tadi bertemu wanita dalam kebun, maka saya peluk dan saya berbuat padanya segala sesuatu hanya tidak saya zina." Rasulullah s.a.w. diam sejenak kemudian turunlah ayat yang berbunyi: "Wa aqimis sholata tharafayinnahari wa zulafa minallahi, innal hasanati yudz hibnassayyi'at, dzalika dzikra lidzdzakirin." (Yang bermaksud): "Tegakkan sembahyang pada waktu siang dan malam, sesungguhnya amal kebaikan itu dapat menghapuskan sayyi'at kejahatan (dosa), ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang sedar taubat (bagi orang yang akan bertaubat " Surah Hud ayat 114)
Maka dipanggil oleh Rasulullah s.a.w. dan dibacakan ayat itu padanya, Umar r.a. bertanya: "Ya Rasulullah, apakah khusus buat dia sendiri atau umum buat semua manusia? " Jawab Rasulullah s.a.w.: "Bahkan umum buat semua orang."
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata: "Pada suatu malam sesudah sembahyang bersama Rasulullah s.a.w. saya keluar, tiba-tiba saya bertemu dengan seorang wanita yang kudung berdiri ditengah jalan, lalu ia berkata: "Hai Abuhurairah, saya telah berbuat dosa yang sangat besar, apakah ada jalan untuk taubat?" Saya bertanya: "Apakah dosamu?" Jawabnya: "Saya telah berzina sehingga mendapat anak lalu sayu bunuh anak itu." Abu Hurairah r.a. berkata: "Celaka kau dan telah membinasakan, demi Allah, tiada jalan untuk taubat." Maka ia menjerit sehingga pingsang, lalu saya tinggalkannya, akan tetapi timbul perasaanku: Saya memberi fatwa padal Rasulullah s.a.w. masih hidup ditengah-tengah kami, dan pagi harinya saya telah pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. dan berkata: "Ya Rasulullah, semalam saya diminta fatwa dalam hal ini dan saya fatwakan kepadanya begini." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Demi Allah hai Abuhurairah, engkaulah yang binasa dan membinasakan, dari manakah engkau hai Abuhurairah?." Dari ayat: "Walladzina layad'una ma Allahi ilaha akhara wala yaqtulunnafsal lati har-ramallahu illa bilhaqqi wala yaznuna, waman yaf'al dzalika yalqa atsama, yudha'af lahul adzabu yaumal qiyamati wayakhludz fihi muhana, illa man ta ba wa amana wa amila amalan shaliha fa ula'ika yubaddilullahu sayyi'atihim hasanat, wakanallahu ghafura rahima." (Yang bermaksud): "Dan mereka yang tidak menyeru kepada Tuhan yang lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina dan siapa yang melakukan semua itu mendapat dosa, bahkan akan dilipat gandakan siksa mereka, dan kekal dalam siksa itu hina dina kecuali orang yang taubat, beriman dan melakukan amal yang soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan semua dosa-dosa mereka dengan kebaikan dan adanya Allah maha pengampun lagi pengasih." (Surah Alfurqan ayat 68-70)
Maka saya segera keluar berjalan dikota Madinah sambil bertanya-tanya: "Siapakah yang dapat menunjukkan aku pada wanita yang tadi malam minta fatwa kepadaku mengenai soal ini dan itu, sehingga anak-anak mengatakan: "Abuhurairah telah." Sehingga pada malam harinya saya bertemu dengan wanita itu ditempat yang kelmarin itu, maka segera saya terangkan kepadanya apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. bahawa ia dapat bertaubat, maka ia menarik nafas besar kerana ia gembira lalu berkata: "Hai Abu Hurairah, saya mempunyai sebuah kebun dan kini saya sedekahkan untuk orang-orang miskin sebagai penebus dosa saya." Sesungguhnya seorang hamba jika taubat, maka semua dosa-dosanya yang lalu itu berubah menjadi kebaikan hasanat. Demikian pengertian ayat 70 surah Alfurqan itu.
Ibn Mas'ud r.a. berkata: "Pada hari kiamat jika seorang hamba melihat dalam suratan amalnya pada permulaannya ada maksiat dosa, lalu diakhirnya hasanat kebaikan, lalu diulang dari mulanya, tiba-tiba terlihat semuanya hasanat kebaikan. Demikian pula riwayat Abu Dzar Alghifari r.a. dari Rasulullah s.a.w. serupa dengan ini dan inilah ertinya: "Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan hasanat."
Sebenarnya tidak ada dosa yang lebih besar dari kekafiran tetapi Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Qul lilladzina in yantahu yugh far lahum maa qad salafa." (Yang bermaksud): "Katakanlah kepada orang-orang kafir: Jika kamu menghentikan kekafiran, maka akan diampunkan bagi kamu apa-apa yang telah lalu."
Alhasan berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: " Andaikan seorang itu berbuat dosa sehingga memenuhi apa yang diantara langit dan bumi, kemudian taubat nescaya Allah s.w.t. mengampunkannya."
Abu Yazid Arraqqasyi berkata: "Ketika Abu Hurairah r.a. berkhutbah diatas mimbar Rasulullah s.a.w. berkata: "Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adam adalah makhluk yang paling mulia disisi Allah pada hari kiamat. Allah menyatakan alasan udzurnya tiga macam iaitu:
• Hai Adam, andaikan Aku tidak mengutuk orang-orang yang dusta dan membenci dusta serta mengancam siksa atasnya dan telah menjadi putusanKu akan mengisi penuh neraka jahannam dengan jin dan manusia semuanya, nescaya Aku memberi rahmat kepada turunanmu semua pada hari ini.
• Hai Adam, sungguh Aku tidak menyiksa turunanmu dengan api neraka kecuali orang yang Aku ketahui bahawa sekiranya Aku kembalikan ia kedunia pasti ia akan kembali kepada kejahatannya dan tidak bertaubat.
• Hai Adam, Aku jadikan kau sebagai hakim antaraKu dengan anak cucumu, berdirilah kau didekat timbangan, perhatikan apa yang terlihat padamu dari amal, maka siapa yang lebih berat amal kebaikannya meskipun hanya seberat semut, maka ahli syurga, supaya kau ketahui bahawa Aku tidak memasukkan kedalam neraka kecuali orang yang zalim.
Aisyah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Suratan amal itu tiga perkara iaitu
• Suratan amal yang diampunkan oleh Allah s.w.t.
• Suratan amal yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t.
• Suratan amal yang tidak ditinggalkan sedikitpun daripadanya
Adapun yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t., maka syirik mempersekutukan Allah s.w.t.. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Innahu man yusyrik billahi faqad harrama Allah alaihil janna ta wama'wahunnar." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan padanya syurga dan tempatnya didalam neraka. Adapun yang diampunkan oleh Allah maka dosa seseorang terhadap Allah antara dia dengan Allah. Adapun yang tidak ditinggalkan sedikitpun maka dosa seseorang terhadap sesama manusia maka harus dibalas dan dikembalikan tiap hak kepada yang berhak."
Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiap hak harus dikembalikan kepada yang berhak pada hari kiamat sehingga diberi kesempatan bagi kambing yang tidak bertanduk untuk membalas kambing yang bertanduk untuk menanduknya. Kerana itu jika dosaku dengan sesama manusia, maka hendaklah diselesaikan dengan baik didunia, adapun kalau antara dia langsung dengan Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. maha pengampun lagi mudah memaafkan asalkan mahu bertaubat. Sebab tiap hak sesama manusia harus dikembalikan, jika tidak dikembalikan didunia maka harus dibayar (diganti) dengan hasanat kebaikan amal yang telah dilakukan pada hari kiamat.
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tahukah kamu siapakah yang pailit dari ummatku? Jawab sahabat: "orang yang pailit itu ialah habis bersih harta kekayaannya dan belum terbayar semua hutangnya sehingga tidak punya harta dan perkakas (perabut rumah). Rasulullah s.a.w. bersabda: " Orang yang pailit dari ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan lengkap sembahyang dan puasanya tetapi ia telah mencaci maki si ini dan menuduh pada si itu dan makan harta si ini dan menumpahkan darah si itu, maka semua orang yang telah habis hasanahnya sebelum terbayar semua orang yang dianiaya itu dan ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilempar kedalam neraka."
Kami mohon kepada Allah s.w.t. semoga Allah s.w.t. memberi taufiq untuk tetap pada taubat.
Muhammad bin Sirin berkata: "Awaslah, jangan sampai kau berbuat kebaikan kemudian kau tinggalkan, sebab tidak ada seorang yang taubat lalu kembali kepada dosanya beroleh keuntungan. Kerana itu yang telah taubat hendaklah mengingati selalu pada dosanya, seakan-akan dimuka matanya, supaya tetap bertaubat, banyak membaca istighfar dan mensyukuri nikmat Allah s.w.t. hanya kepadaNya dapat bertaubat, juga memikirkan apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. daripada nikmat diakhirat bagi orang yang beramal soleh, supaya rajin beramal soleh dan menjauhi dosa."
Zaid bin Wahb dari Abu Dzar r.a. berkata: "Saya bertanya: "Ya Rasulullah, beritahukan kepada kami apa yang tercantum dalam Suhuf Musa?" Rasulullah s.a.w. berkata: "Didalamnya ada enam kalimat iaitu:
• Saya hairan terhadap orang yang yakin adanya neraka, bagaimana ia dapat tertawa?
• Saya hairan pada orang yang yakin akan mati, bagaimana dapat bergembira?
• Saya hairan pada orang yang yakin akan adanya hitungan amal, bagaimana ia melakukan dosa?
• Saya kagum pada orang yang percaya pada takdir (ketentuan Allah s.w.t.), bagaimana ia bersusah payah?
• Saya kagum pada orang yang melihat segala perubahan dunia, bagaimana ia condong kepadanya?
• Saya ajaib pada orang yang yakin pada syurga, bagaimana ia tidak berbuat baik?
La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.
Pada suatu hari Abdullah bin Mas'ud r.a. berjalan-jalan dikota Kufah, tiba-tiba bertemu dengan orang-orang fasiq sedang berkumpul minum khamar dan ada penyanyinya bernama Zadan. Ia memukul rebana sambil bernyanyi dengan suara yang merdu. Abdullah bin Mmas'ud berkata: "Alangkah merdunya suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran." dan Abdullah terus berjalan. Tiba-tiba Zadan terdengar apa yang dikatakan oleh Ibn Mas'ud itu lalu ia bertanya kepada orang-orang: "Siapakah orang itu?" Dijawab oleh orang-orang: "Itu Ibn Mas'ud, sahabat Rasulullah s.a.w.." Lalu ia berkata apakah?" Tanya Zadan. Jawab orang-orang itu: "Ia berkata, alangkah merdu suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran."
Perkataan itu benar-benar meresap dalam hati Zadan sehingga segera ia berdiri dan membuang rebana yang ada ditangannya lalu lari mengejar Ibn Mas'ud dan mengikat saputangan dilehernya sendiri sambil menangis dihadapan Ibn Mas'ud, maka dipeluk oleh Abdullah bin Mas'ud dan bersama-sama menangis, kemudian Abdullah bin Mas'ud berkata: "Bagaimana saya tidak akan sayang pada orang yang disayangi Allah s.w.t." Lalu ia tetap taubat dan selalu mendekati Abdullah bin mas'ud untuk belajar ilmu Al-Quran sehingga menjadi orang alim yang banyak meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Mas'ud r.a..
Abul Laits berkata: "Saya mendapat cerita dari ayahku, bahawa dimasa Bani Iisrail dahulu ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik dan ia selalu duduk diatas dipan didalam rumah yang selalu terbuka pintunya, sehinggakan tiap orang yang berjalan dimuka pintunya pasti tertarik kepada kecantikannya dan siapa yang akan masuk diharuskan membayar sepuluh dibar. Maka pada suatu hari ada ahli ibadat berjalan dimuka pintunya dan ketika menoleh kedalam pintu terlihat olehnya kecantikan wanita itu yang sedang duduk didipannya, maka ia sangat tertarik pada wanita itu, tetap ia berdoa semoaga Allah s.w.t. menghilangkan kerisauan hatinya yang selalu teringat pada wanita itu. akan tetapi oleh kerana perasaan hatinya tidak hilang akhirnya ia berusaha mencari wang sehingga terpaksa menjual beberapa kainnya dan setelah terkumpul sepuluh dinar ia datang kemuka pintu itu tetapi oleh wanita pelacur itu disuruh menyerahkan wangnya kepada wakilnya dengan janji supaya ia datang pada waktu yang ditentukan.
Maka tepat pada waktunya ia datang, sedang wanita itu telah berhias dan duduk menantikannya diatas ranjangnya, maka masuklah orang abid itu dan duduk bersama wanita itu diatas ranjang dan ketika sedang menghulurkan tangan pada wanita itu, tiba-tiba ia teringat bahawa Allah s.w.t. sedang melihatnya dalam perbuatan yang haram, yang mungkin akan menggugurkan semua amal perbuatan ibadat yang telah lalu itu, seketika itu juga ia gementar dan pucat mukanya, maka ditanya oleh wanita itu: "Mengapa kau berubah pucat, terkena apakah engkau?" Jawabnya: "Saya takut kepada Tuhanku kerana itu izinkan aku keluar." Wanita itu berkata: "Celaka kau, banyak orang ingin mendapat seperti kau ini, maka apakah yang menyebabkan kau begini?" Jawabnya: "Saya takut kepada Allah s.w.t., sedang wang yang sudah saya berikan kepadamu itu halal, izinkan saya keluar dari sini." Maka ditanya: "Apakah engkau belum pernah berbuat begini?" Jawabnya: "Belum pernah." Lalu ditanya: "Siapa namamu dan dari manakah engkau?" Lalu diberitahu nama dan tempat daerahnya, lalu diizinkan keluar, maka keluarlah abid itu dari tempat itu sambil menangis dan melatakkan tanah diatas kepalanya, sehingga terpengaruh wanita itu ketika melihat abid itu menangis dan berkata dalam hatinya: "Ini orang pertama kali akan berbuat dosa sudah merasa takut sedemikian dan saya berbuat dosa bertahun-tahun, padahal Tuhannya iaitu Tuhanku, maka seharusnya aku lebih takut daripadanya." Maka sejak itu wanita itu taubat dan menutup pintu rumahnya dari segala orang, untuk melakukan ibadat semata-mata, kemudian setelah ia ibadat, timbul perasaan dalam hatinya: "Sekiranya saya pergi kepada iorang abid itu, kalau-kalau ia mahu mengahwini aku sehingga aku dapat belajar agama darinya dan membantu saya dalam beribadah." Lalu ia bersiap-siap membawa harta dan budak-budaknya sehingga sampai kedusun si abid itu, dan ketika diberitahukan kepada abid itu ada wanita mencarinya, maka keluarlah abid itu untuk menemui tamunya, dan ketika wanita itu melihat abid itu segera ia membuka tudung mukanya supaya segera dikenal, tetapi ketika abid itu melihat wanita itu, teringat akan kelakuannya dahulu, maka ia menjerit sekuatnya sehingga mati ketika itu juga. Maka wanita itu tinggal sedih dan berkata: "Saya ini datang kemari untuknya dan kini telah mati, apakah ada keluarganya yang mahu kawin kepadaku?" Dijawab: "Ada saudaranya seorang soleh tetapi tidak punya apa-apa (miskin)." Berkata wanita itu: "Tidak apa sebab saya cukup harta." Maka dikawin oleh saudaranya abid itu sehingga mendapat tujuh anak laki-laki yang kesemuanya menjadi nabi-nabi Bani Israil. Wallahu a'lam.